Thursday, December 24, 2015

Ospek Kota Jakarta Bagian Ke-5; Proses Pencarian!

BY Ricky Douglas IN 2 comments



Part 5. 

Masih dengan rasa syok dan keterkejutanku akan kosan Yuk Rika, aku pun akhirnya memilih tiduran sambil membuka laptop. Ha! Coba kalian bayangkan saja! Ini kan Kota Jakarta, Ibu Kota negara Indonesia. Kota yang katanya tujuan bagi semua orang. Kota yang penuh dengan gedung-gedung tinggi dan ‘modernitas’ kehidupan. Tapi sungguh sial, di sini, di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, tepat di Kosan Yuk Rika, tidak ada sinyal sama sekali. Nihil. Setitik pun tak ada. Lucu kan?!

Laptop yang semulanya ingin kugunakan untuk berselancar di dunia maya pun terbengkalai. Hah, sial sekali hari ini. Dari mulai perjalanan hingga sampai pun tak urung henti penderitaan. Oke, tidak masalah. Aku anggap ini menrupakan Ospek Kota Jakarta yang mengucapkan ‘Selamat Datang’ pada pendatang tengil sepertiku. Pendatang yang anehnya tidak begitu menyukai TV tapi sangat terobsesi berada di dalam TV. 

Ini dia si Douglas yang akhirnya memutuskan bersibuk ria dengan membuat kisah “Ospek Kota Jakarta Bagian ke satu”. Dan, tanpa sadar ada saja paparazi yang mengabadikan moment ini. Huh, susah sih yaa kalau udah aura bintang. Maunya bersinar terus aja, sampe-sampe keadaan kucel gitu pun tetap terlihat benderang wkwk. Yap. Benderang. Bercahaya. Sama seperti selimut unyu warna kuning itu tuh. Tapi tenang, alas tidur tidak menggambarkan kepribadian seseorang kok (Berharap kalian percaaya hahaha). 

Malam semakin menggiringku ke pembaringan. Dan akhirnya, lelaplah yang menjadi pilihan terakhir untuk menggenapkan hari ini. Ya, tanggal 19 November 2015 merupakan hari bersejarah dalam hidupku. Hari di mana dengan lancangnya mimpi yang kupendam bertahun-tahun lamanya, akan dipertaruhkan bersama jutaan pencari mimpi lainnya. Seorang anak desa yang berharap menemukan tempatnya di kota ini. Menjadi seperti apa yang diinginkannya. Aku membuat pertaruhan dengan hidupku sendiri. Selagi bernapas, memiliki kekuatan, kemampuan, kepercayaan, akan kukejar impian ini hingga titik entah. 


20-25 November 2015. 

Hari ini, pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan tentunya telah mandi. Hmm, walaupun menggunakan  air seadaanya. Ahhh, pusing sekali memikirkan kosan yang tak berair ini. 

“Gimana sih yuk. Kok kosannya gak ada air? Kita kan di sini bayar,” omelku.

“Baru kok kayak gini, emang kebetulan mesin airnya tuh lagi rusak. Yodah dari pada pusing mikirin air, kita cabut aja yuk. Mulai cari kontrakannya aja deh,” tawar Yuk Rika. 

Kami pun memutuskan pergi. Mencari kesana-kemari tiada henti. Yap, tujuan kami adalah menemukan tempat tinggal baru 

Berbekal satu payung dan satu botol air mineral, kami pun siap berkelana. Dari mulai naik kereta, angkot, koapaja, metromini, bahkan bajaj pun menjadi sasaran perjalanan. Cuaca jakarta yang tak menentu pun kerap kali membuat gondok. Hujan yang tanpa aba-aba turun merembes dari langit. Panas terik yang menyengat kulit. Huh, saran dari Yuk Rika untuk membawa payung ternyata tepat sekali. Seperti sekarang, kami tengah duduk di pos kamling tak berpenghuni, menunggu hujan reda. 



Agrrrrrhh, proses pencarian ini berlangsung berhari-hari, mengurus keringat, tenaga, duit, waktu, dan air mata wkwkw. Dari jalanan besar, gang kecil, gang banyak sampah, jalanan seram, dan perumahan padat penduduk kami jamah. 
“Wah kurang tau sih kak di sini ada gak kontrakan yang kosong. Kayaknya udah keisi semua deh,” ucap anak kecil yang kami tanyai. 

“Eh ada kok tuh yang kosong di sana,” jawab yang lainnya. 

“Emang di mana?” tanyaku antusias. Hampir saja ingus meluber karena terlalu bahagia mendengar kabar ini. 

“Itu ada di belakang kandang kambing,” jawabnya polos. 

“Haaaa??? Di belakang kandang kambing??? Bau eek-nya pasti bau kan???” jawabku histeris. 

“Coba aja bauin, Bang. Gua belum pernah nyium bau tai kambing sih.”

Selain percakapan dengan anak kecil ini, kami pun bertemu beberapa orang unik lainnya selama perjalan mencari kontrakan. 

“Kenapa dek? Cari kosan ya?” ucap laki-laki paruh baya yang tiba-tiba menghampiri kami. 

Siang itu langit masih menyalak garang. Bahkan wajah kesal penuh amarahku pun karena letih, tak cukup menyaingi keganasan terik matahari. Yuk Rika pun sama. Dengan napas megap-megap seperti kehilangan oksigen, ia bersandar di tembok gapura sebuah gang. 

“Iya, Pak. Cari kosan!” ucap Yuk Rika bahagia. Ia langsung menyambar dan menabrak badanku, lalu berganti alih mengambil obrolan. 

“Bukan kosan. Tapi kontrakan,” ucapku tak mau kalah. Aku pun menabrak bahunya pelan. Lalu, terjadilah senggol menyenggol bahu antar kami. 

“Ohh, kontrakan,” ucap si Bapak yang membaut kami kembali fokus padanya. “Ada tuh. Bapak sekarang tinggal di sana juga. Satu rumah isinya empat kamar. Sekarang tinggal dua kamar yang kosong. Satu bulannya 600rb.” 

Aku dan Yuk Rika saling toleh. Hmm, lumayan juga, pikir kami. 

“Daerah mana, Pak?” ucap Yuk Rika kembali berbinar. 

“Kramat jati. Enak Mba rumahnya bersih, aman, kemarin baru aja dua kamarnya kosong. Itungannya murah kok,” tutur si bapak panjang lebar. Rambutnya berhias warna putih yang menandakan seberapa banyak pengalaman hidupnya. 

Setelah obrolan menyenangkan dan terasa sangat nyambung tersebut, kami pun bertukar kontak dan janji besok akan menemui si Bapak  di kontraknnya. Kemudian, salam perpisahan pun diberlangsungkan. 

“Dadaaaa, Pak. Sehat-sehat ya!!” teriakku sambil melambaikan tangan. 

“Kalau jatuh dijalan bangun sendiri ya, Pak,” teriak Yuk Rika heboh. 

Baru hendak melanjutkan perjalnan menuju Duren Tiga, bapak-bapak opang (Ojek Pangkalan) membuka obrolannya dengan kami. 

“Ngobrolin apa mas tadi?” tanya salah satu dari mereka. 

Hiii, kok kepo yaa, batinku. 

“Anu, Pak. Kami mau cari kontrakan, tadi si bapak itu ngasih informasi gitu.” 

“Hahahahahaa,” tawa mereka serempak. 

Lho, lho, ada  apa ini? Aku dan Yuk Rika hanya bengong melihat mereka yang terbahak.  

“Kenapa Pak ketawa? Kayaknya lucu banget? Bagi-bagi dong,” tegurku mirip Ibu-ibu kosan yang menagih uang bulanan. 

Sambil masih menahan tawa, ia berucap “ Bapak tadi rada miring, Bang,” jawabnya enteng. 

“M-maksudnya?” Yukk Rika histeris. 

“Iya dia orang gila. Rada stress, Bang. Emang biasanya tuh bapak mangkal di sana.”

Whaaaaat??? Jadi... si bapak tadi orang gila??? Terus rasa nyaman, tertawa bersama, obrolan nyambung yang aku rasain tadi sma orang gila dong? Kyaaaaaa!!! Ternyata diriku memang lebih nyambung dan nyaman sama orang yang kurang waras T.T 

Begitulah seminggu awal di Jakarta, kuhabiskan dengan mencari tempat tinggal kesana-kemari. Perumahan daerah Jakarta selatan hampir semuanya terjamah. Dari Tebet, Kalibata, Pasar Minggu, Duren Tiga, Mampang, Kebayaroan, Fatmawati, dll. Tapi, tak ada tempat yang sesuai selera.

Tak kehabisan akal, kami pun juga sering menggunakan aplikasi jasa jual, beli, sewa, yang ada di internet. Tapi sayang, hasil pun tak kunjung nampak. 

“Cukup!” teriak-ku lebay. “Ini gak bisa dibiarkan. Mau jadi apa kita kalau  seperti ini terus?” lanjutku memulai obrolan. 

Saat itu, kami tengah duduk di kursi salah satu gang perumahan warga. Sedang menetralkan napas yang megap karena baru saja melewati tumpukan sampah di belakang Mall.
 
“Terus gimana dong?” jawab Yuk Rika kebingungan. 

“Oke, sekarang kita re-view kontrakan. Satu orang merekomendasikan satu kontrakan yang udah kita temui beberapa hari ini. Oke?” pancingku. 

“Oke!” balas Yuk Rika cepat. 

“Aku suka kamar sewanya rumah Bu Rajab," ucapku mantab dan penuh kepercayaan diri. Aku yakin Yuk Rika pun akan memilih tempat ini.

“Ayuk suka rumah kontrakan Ijo di deket warnet itu," ucap Yuk Rika akhirnya, setelah beberapa lama terlihat berpikir. 

“Aphhhaaaaa?” mataku melotot hebat. “Kan sebelumnyo Ayuk udah setuju di kamar sewa Bu Rajab? Gimana sih???” tanyaku nyolot. 

“Biasa aja sih bibirnya gak usah monyong-monyong!" protesnya. "Gak enak kali tinggal bareng orang lain. Enakan rumah kontrakan sendiri,” jelas Yuk Rika. 

“Tapi, kan. Ini tuh rumahnya keren banget gilaa.” 

Otak-ku pun lalu kembali terbang mengingat momen romantis bersama sesuatu yang kuning di dalam kamar mandi, saat di rumah Bu Rajab. 

*Bersambung

Wednesday, December 16, 2015

OSPEK KOTA JAKARTA. BAGIAN KE EMPAT; TERTATIH DI REL KERETA API!

BY Ricky Douglas IN No comments



#Part 4

            Mata semua orang masih memandang satu arah. Ke atas tanpa berkedip. Oke, berkedip, tapi tak sesering seperti biasa. Aku mengikuti gerak pandang semua orang di gerbong itu. Dan, inilah yang kudapatkan...

           
 Nampaknya semua isi kereta menikmati wajah-wajah cantik yang tertayang. Commuter line yang kunaiki ini tergolong kereta baru. Jadi tak semua kereta memiliki iklan elektronik seperti ini di dalamnya. Bukan hanya informasi ini saja yang diberikan, namun penumpang seakan dibuat tak bosan dengan liputan-liputan yang sangat informatif. Seperti kilas balik sejarah, peradaban bumi, stand up comedy, dari informasi tradisional hingga modern. Iklan ini cukup menyita mata, pikiran, dan hatiku. Hingga tanpa sadar sesuatu yang mencekam pun datang. 

            Mataku memandang ngeri sosok pria yang sebelumnya berdiri di belakang Yuk Rika. Entah kenapa ada rasa “Hust, sana pergi!” di dalam diri saat melihatnya yang kini terlalu mepet Yuk Rika. Wah wah nih orang mau mesum nampaknya. Kuangkat dagu tinggi-tinggi. Bahu kupasang kokoh dan tegap. Berlaga seperti raja yang mampu mengenyahkan dan mengintimidasi musuh hanya dari perawakannya saja. 

            Duh, atau jangan-jangan dia copet ya? batinku. 

            Panik. Aku mencari akal untuk membuat Yuk Rika sadar kalau ada pria yang berdiri terlalu dekat dengannya. Kukedipkan mata pelan-pelan. Tapi, tak berhasil. Tidak ada respon dari Yuk Rika. Aku pun mempercepat kedipan, kali ini diiringi sudut bibir yang ikut naik-turun. Tapi sial, Yuk Rikaa masih tak menangkap sinyal ketampananku. Agggrrrhhh, hampir frustasi dibuatnya. 

            Layar iklan di kereta masih saja menggema. Menghantarkan radang kemarahanku makin di pucuk kepala. Oke, Tenang Glas! Gak lucu kan kalau lu ngangkang terus tarik napas di dalam sini? Grrrr.... 

            Tak kehabisan akal. Kali ini aku pura-pura batuk. Dari batuk kecil hingga terbatuk-batuk mirip orang sakaratul maut. Yuppy, berhasil!!! Yuk Rika menoleh padaku. Namun sialnya bukan hanya dia yang menoleh, tapi juga banyak orang. Ada yang memandang sinis. Jijik. Geli. 

            Omegiiii, memalukan sekali! 

            Suara dari speaker di dalam gerbong kembali terdengar, yang intinya memberi informasi jika sesaat lagi kereta akan sampai di stasiun Lenteng Agung. Dengan cekatan, aku mengambil koper di atas kursi duduk yang berfungsi memang sebagai bagasi barang-barang penumpang. Tiba-tiba, dari arah belakang, sepasang tangan membantuku menurunkan koper. 

            Dia? batinku kecut.  

Ternyata si penolong adalah pria yang berdiri di belakang Yuk Rika. Pria yang selama ini kucurigai sebagai sindikat laki-laki mesum Jakarta. Dia tersenyum ramah. 

Pada saat proses senyum-mensenyumi itulah telingaku kembali menangkap suara dari papan iklan elektronik yang berbunyi kurang lebih; 

“Jika Anda selalu berprasangka buruk pada orang lain, maka Anda tidak mempunyai waktu untuk mencintainya.” 

Itulah kata-kata yang kudengar, yang kalau tidak salah merupakan kutipan dari em... Bunda Maria? Atau, siapa ya? Hahahaa, yang jelas tokoh dari agama Kristen. 

Pintu kereta terbuka. Aku dan Yuk Rika pun melangkah pergi. Sebelum makin menjauh, ku-ucapkan rasa terimaksih pada pria penolong tadi dengan memberi senyum dan ucapan “thanks”. Terkesan sederhana, namun rasanya aku benar-benar tersentak dengan bantuannya dan juga kutipan barusan. 

“Jika Anda selalu berprasangka buruk pada orang lain, maka Anda tidak mempunyai waktu untuk mencintainya.” 

Di peron Lenteng Agung, masih saja kutipan itu terngiang melayang-layang gentayang di otakku.

“Kenapa Dek Iki?” tegur Yuk Rika. 

“Ah? Eh, gak kok.”

Kami pun berlalu. Melangkah ke pintu keluar. 

Kulihat Yuk Rika sudah keluar kawasan peron dengan menge-tap kartu langgangan KRL.
  
Lubang hidungku mengembang drastis. Rasa ngeri meledak-ledak di dalam jiwa. Ahhh, kemana kartu KRL-ku? Mulailah pencarian kartu dengan rasa panik tak redam. Di saku kemeja, nihil. Saku celana, tas, dompet, semuanya nihil. 

“Ngapo, Dek?” 

“Kartu aku hilang, Yuk.”

“Haaaaa??” Duh, coba deh dicari-cari dulu,” ucap Yuk Rika dari seberang alat pembatas antara calon penumpang KRL yang sudah membeli tiket dan yang belum membeli tiket. 

“Pak,” ucapku panik pada satpam. 

“Iya, ada apa, Mas?”

“Ini tiket KRL saya hilang.”

“Iya, Pak. Kalau tiketnya hilang di-denda berapa ya?” sambar Yuk Rika. 

“Wah coba dicari lagi dulu mas baik-baik. Sayang uangnya Mas kalau dipakai buat bayar denda,” tuturnya simpatik. Ramah. 

“Udah, Pak. Udah saya cari tapi masih gak ada. Apa yang harus saya lakukan? Saya letih. Capek. Penat menghadapi cobaan ini! Saya ingin bersandar di bahu bapak saja! 

“Gak apa-apa Mas coba dicari lagi aja. Lumayan lho uangnya bisa dipake untuk hal lain daripada buat bayar denda.”

Wuiihhh Pak Satpam ini betul-betul peduli ternyata. Baiklah, aku cari sekali lagi!

FYI, untuk menggunakan jasa layakan commuter line, kita harus mempunyai tiket. Dan, tiket yang tersedia ada dua jenis. Tiket pertama itu merupakan tiket harian, dibeli dengan harga dua belas ribu dan berlaku selama seminggu. Apabila nanti kita mengembalikan tiketnya, maka ada uang kembalian sebesar sepuluh ribu. Intinya, kita hanya ditarik uang sebesar dua ribu rupiah persekali perjalanan. Dan tiket yang kedua merupakan tiket member. Dibeli dengan harga limapuluh ribu dan berlaku selamanya, selagi memiliki saldo. 

Aku yang masih sibuk mencari kartu hilang pun, akhirnya menyerah. Bisakah kalian membantuku mencari kartu KRL? 



Jika kalian melihat kartu, sebut kartu! Apakah kalian meihat kartu? *kedip-kedip. Baiklah, sekali lagi, jika kalian melihat kartu maka sebut kartu!

Hah, inilah penampakan dari kartu KRL-ku yang hilang. Sudah letih dari perjalanan panjang pun masih harus menghadapi hal seperti ini. Nampaknya, kehidupanku sungguh berwarna. 

“Emang kalau kartunya hilang didenda berapa, Pak?” tanya Yuk Rika yang masih di luar peron pembatas. 

Krik... krik... krik....

Pertanyaan dari Yuk Rikaa seperti cambuk yang menandakan kalau pencarian kartu ini harus segera diakhiri saja. Kami bertiga—Aku, Yuk Rika, dan Pak satpam—berpandang-pandangan.

“Yaudah bapak ikut saya ke ruang petugas aja,” sahut Pak Satpam memecah keheningan. 

Aku pun mengekor Pak satpam menuju ruangan karyawan KRL. Selagi diperjalanan, mulutku bernyayi tak terkontrol.

Aku berjalan di dalam kesendirian. Aku tlah hancur lebih dari berkeping-keping karena tiketku, karena duitku telah banyak habis. 

Akkkh, aku benar-benar tertatih di rel kerata api! 

“Silahkan masuk, Pak,” ucap Pak Satpam. 

“Oiyaaa terimakasih.”

“Nanti ketemu sama Mba Mawar ya (nama disamarkan) untuk masalah biaya.”

“Iya,” jawabku singkat sambil menundukkan kepala dalam-dalam.

Benar-benar melelahkan! 

“Halo, Mas. Ada yang bisa saya bantu,” tegur satu suara lembut. Ringan. Merdu. Membuat jantung berkedut-kedut. 

Kuangkat kepala, dan.... Tuhan, satu lagi ciptaanmu yang benar-benar indah kini berada tepat di depan mataku. Nikmat mana yang berani kudustakan? 

Selamat menyantap hidangan. Terimakasih Tuhan, batinku saat melihat wanita didepanku ini dengan name tag bernama Mawar hahaha. 

“Mas, kenapa melamun?” Mawar mengibas-ngibaskan tangan di depan pantat mukaku. 

“Ohhh eeemmm anu ituu anuu. Anu-anuan yuk?”

“Ha? Anu-anuan?”

“Maksudnya, anu itu lhoo kartu saya hilang.”
 
Mawar pun menjelaskan hal yang perlu dijelaskan, setelah membayar uang sebesar lima puluh ribu rupiah, aku diberi secarik kertas. Kemudian, aku bersama Pak Satpam pun kembali menuju alat pembatas peron. Si satpam menge-tap kan kartu miliknya lalu mempersilahkanku lewat. 

Sesampainya di luar, aku memeluk erat Yuk Rika dan menangis sejadi-jadinya. “Dunia ini sungguh tidak adil. Kenapa dari sekian banyak orang, hanya kartuku saja yang hilang, hiks.” Ucapku pada Yuk Rika sambil sesenggukan.


Inilah secarik kertas yang diberikan Mawar padaku. Romantis, bukan? Berharap dibaliknya ada tulisan pin bbm atau nomer hape, tapi sungguh, Mawar terlalu kejam. Ia tidak memberikan hal itu padaku. Mawar oh mawar, aku rela menjadi tangkai untuk menyentuh kelopak indahmu itu. Aku rela menjadi duri untuk dapat berdekatan dengan tangkai dan kelopakmu. Mawar oh Mawar. 

            Kalau yang ini kartu member commuter line milik Yuk Rika;

Sebelum meninggalkan kawasan stasiun lenteng Agung, aku menyempatkan diri untuk mengabadikan tempat ini.

Ha, akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan walaupun betis sudah sebesar telur dinosaurus.

“Kosan ayuk di manonyo?” 

“Habis ini sih masih naik angkot dek ke daerah kosan ayuk.”

“Haaaa??? Jadi ini masih belum sampai? Ohh tidak!”

“Semangat yaaa!!! Ayo sini kita naik jembatan dulu,” ucap yuk Rika.

Aku menatap kecewa. Menatap penuh beban ke arah jembatan penyebrangan orang di depanku. Jelas saja, jika menaiki jembatan itu, otomatis aku harus menggendong koper. Ampun. Bukannya mudah cepat menyerah atau mengeluh, hanya saja, sungguh, aku ingin cepat-cepat tidur. 

Baiklah, Douglas. Laki-laki seperkasa dirimu pasti bisa melakukan ini! Kau kan dulu preman di kampungmu saat masih SMA. Semua anak TK dan SD takut padamu! Ayo, Glas! Semangat! ucap batinku menguatkan diri sendiri. 

Berhasil melalui sang jembatan, kami pun langsung masuk menyungsep salah satu angkot bernomor 16  yang sudah ngetem di bawah jembatan. Kemudian, perjalanan menuju kos Yuk Rika pun berlanjut. Kami berhenti tak lumayan jauh dari awal pemberangkatan angkot. Hanya sekitar lima belas menit. 

Sebuah bangunan cukup mengerikan karena lampunya sedikit pendar pun menjadi penyambut kedatanganku. Akhirnya, tiba juga. 

Aku menghempaskan dan memantul-mantulkan tubuh di kasur. Kuciumi semua bantal, boneka, bad cover di kamar itu. Legah sekali rasanya. Baru kali ini aku sangat merindukan kasur. Saatnya tidur!!! Eiiitt, mandi aja dulu enak kali yaaa? Melangkahlah kaki menggemaskan milikku ke dalam kamar mandi. Tutup pintu kamar mandi. Lepas baju. Celana. Lalu putar keran.

Lhoooo, kok??     
                                        
“Yuuuuukk Rikaaaaaaaaaaaa... ini kenapa airnya gak keluar???” teriak-ku dari dalam kamar mandi. 

“Ya Ampun, mesin airnya masih rusak yaa???” tanya Yuk Rika histeris. 

Sumpah, hari ini sempurna sekali. Dasar keran air PILSUK PILSUK PILSUK!!! UPIL BUSUK!!!

*Bersambung.

Tuesday, December 1, 2015

Perkenalkan, aku adalah... entah!

BY Ricky Douglas IN No comments





Perkenalkan, aku adalah... entah! Sukar sekali mengakui namaku yang selalu kalian sematkan dengan mimik menyedihkan. Air muka yang berkerut sempurna dan kebas sudah dengan depa-depa rona cerah. 

            Aku adalah rasa di mana sesak selalu berkembang biak. Muram bermutualisme dengan durja. Serta renung tak terhingga serupa hitam pada malam hari. 

            Kalian selalu memanfaatkanku untuk mencuci muka dengan cairan bening yang aku pun heran hanya dengan memikirkanku saja, air itu sudah tumpah ruah seperti oksigen yang tak ada habisnya. Yah, akulah si penggusur kebahagian dalam diri manusia, atau mahluk hidup sekalipun.

            Teman sejati. Pasti itu aku. Dalam gelap kamar kalian yang hanya bertitik satu lentera dan isak-isak kesedihan, aku selalu ada. Dalam keheningan kalian di pinggir danau dengan mata menerawang jauh, aku selalu ada.  Dalam sepi-sepi karena seolah baru tersadar cinta sejati sebenarnya adalah kebutaan sejati, aku selalu ada. Di mana letak aku pergi dan menepis lantas berpaling dari kalian?

            Aku membasuh sesuatu dalam diri kalian yang lebih lembut daripada sutra, lebih rapuh daripada kayu lapuk berumur ratusan tahun, dan lebih kokoh dari baja sekali pun. Aku mengeluarkan riak-riak dari hati hingga kotoran itu menguap menjadi tangis.

            Nama lainku adalah penguntit sejati. Kadang kalian melepaskan dekapanku. Menyela pembicaraanku. Mengeyahkanku dari pikiran. Menepisku dengan hentakkan keras kepala.  Meludahiku dengan ucapan tajam kalau kalian baik-baik saja. Tapi, sayang. Aku adalah penguntit sejati. Sekeras apa pun kalian berlari, akan kukejar. Sepintar apa pun kalian berpura-pura tersenyum manis, aku akan selalu menjadi sisi pahit. Sehebat apa pun kalian berdalih, aku kan menjadi sisi ke dua. Membuat kalian menyendiri. Tersiksa. Terisak. Tersingkirkan. Dan akhirnya berkata dunia ini tidak adil. Kalian tidak bisa menjauhkanku. Relakan saja tangan kalian berjabat denganku. Tenang  saja, dengan suka cita aku akan memperkenalkan diri, kalau namaku adalah... rasa sedih!