Monday, April 21, 2014

Bukan Aphrodite

BY Ricky Douglas IN No comments




“Ayah,” ia memeluk erat lenganku.
Hening.
“Mas,” diciumnya keningku.
 “Ayah, main kuda-kudaan yuk!” kepala kecil itu menengadah.
Hening.
“Ayah!” lenganku berguncang akibat tarikan manja darinya.
“Ma, kenapa ayah udah gak mau ngomong lagi sama Melati? Ayah jahat!” ia sesenggukan, air matanya menggenangi pelupuk yang kian sembab.
Gigiku bergemetak kencang. Bongkahan air bening yang sedari tadi kutahan, akhirnya mengoyak mata. Ironis, aku membiarkan diriku berteman karib dengan malaikat pencabut nyawaku sendiri. Pikiranku terbang ke masa silam.
***
Rongga dadaku makin penuh. Setiap hisapan dan kepulan yang tercipta, justru membuat paru-paruku serasa mendapat asupan gizi menyegarkan. Ia laksana dewi Aphrodite yang menebarkan cinta dan keindahan lewat setiap asap yang mampu kupanen. Malaikat itu terlihat manis dan mengugah untuk segera dilumat. Sebenarnya, sedari dulu aku sudah sadar bahwa asupan gizi itu hanyalah khayalan semata dari otakku yang terlalu munafik.
“Mas, rokoknya bisa dimatikan? Ini kan tempat umum,” tegur wanita itu.
“Justru karena tempat umum. Jadi, terserah saya mau ngapain aja!” balasku tak kalah sengit.
“Kamu mau merokok sampai puas itu terserah kamu! Tapi kamu sudah melanggar hak orang lain untuk menghirup udara bersih!” dengan sigap, ia mengamit tanganku lalu mematikan rokok yang baru saja kusulut. Wanita itu pun turun dari bis yang belum sempat melesat.

Sesederhana itu pertemuanku dengan Rina. Banyak yang bilang, cinta sejati hadir dengan cara yang tak terduga. Terkadang menempatkan diri sebagai musuh, atau mungkin sahabat. Rasa kebencian itu terkikis seiring pertemuan kami yang kian marak. Hingga akhirnya, sebatang rokok itulah yang menyatukan kami dalam ikatan pernikahan.
***
Tubuhku kian kurus. Entahlah, kemana perginya gumpalan lemak yang dulu selalu setia bersanding dengan tulang-tulangku. Tiap kegelapan mulai memeluk bumi, saat itu juga aku ikut menyertainya dengan partitur irama batuk yang beritme. Perputaran waktu tak kunjung menghentikan batuk yang kian mengganas. Panas menyelubungi leherku.
“Uhuku … uhuk….” kucengkram leher ini.
“Mas, sebaiknya kamu berhenti merokok.”
“Ini bukan karena rokok, Rin.”
Tiap malam selalu sama. Tubuhku meringkuk di sudut kamar yang terlihat seperti neraka. Batuk itu tak kunjung hilang, menyebabkan nyeri yang berkepanjangan di leher. Kusulut sebatang rokok, dan menyampirkannya di sela-sela jari. Hisapan pertama seperti angin surga. Batuk itu kalah pamor dengan setiap asap yang merajai tenggorokanku.
“Mas, besok kita ke rumah sakit ya?” tegur suarnya pelan.
“Buat apa?” suaraku tercekat. Sedikit serak.
“Batukmu makin  parah, Mas. Lihat! Suaramu saja semakin serak,” bujuknya meyakinkanku.
“Aku ingin hidup tenang tanpa harus terikat akan larangan-larangan dokter, Rin”
***
Sudah satu bulan ini aku tergolek tak bernyali di kasur. Batuk yang kian menyiksa ini sudah mengeluarkan cairan merah. Telingaku nyeri. Wajahku pun kebas, tak lagi terasa saraf yang dapat menghantarkan berjuta ekspresi. Benjolan aneh menghiasi sudut leherku.

Lihat! Istri dan anakku sungguh setia mengurusi diriku yang terlihat seperti mayat hidup ini. Ah, kemana perginya dewi Aphrodite-ku itu? Dewi yang dahulu selalu mengepulkan asupan gizinya di paru-paruku. Busuk! Ia balut dirinya dengan kenikmatan, serta rasa manis. Terkadang, ia pun membuat rasa percaya diri ini meningkat. Namun, pada akhirnya ia hanya mampu meninggalkanku dalam kesengsaraan. Aku salah! Aku telah membuat nerakaku sendiri.
Aku hanya dapat membuat keluargaku nelangsa karena telah melibatkan mereka dalam hal ini. Mereka semua terlihat bersedih, sudah tak terhitung airmata yang mengaliri kulit pipi. Apa ini yang sedari dulu kuharapkan dari sebatang rokok itu? Kesedihan yang tak kunjung kandas!
***
Tubuh kaku ini terpatri pada pembaringan yang entah mengapa terlihat menakutkan bagiku. Lampu yang menyilaukan mata, seketika menyeruak membuat hati gamang. Operasi. Yah, ini adalah satu-satunya cara untuk  dapat menghilangkan sel kanker yang mulai menjalar di tenggorokanku.
Hasil dari operasi itu tak terlalu buruk. Aku hanya kehilangan pita suaraku. Bukankah ini harga yang harus kubayar dari berbatang-batang rokok itu? Hahaha manusia bodoh!





BIODATA NARASI

Ricky Douglas, seorang penulis muda kelahiran 14 Juli 1994 ini tinggal di Kabupaten Ogan Ilir, Palembang, Sumatera Selatan, dan sekarang sedang menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro Semarang. Profil lebih lengkap dari seorang penggila dunia sastra ini dapat kalian lihat di Facebook: Ricky DouglasTwitter: @RickyDouglasz, atau email : ricky_douglas@rocketmail.com Terimakasih.







Friday, April 18, 2014

The Mystery of Wedding Dress

BY Ricky Douglas IN No comments








            Cuaca yang dingin tak menghentikan rencanaku dan Brayden untuk mengajak Lisa berkeliling kota hari ini. Lisa adalah anak Dooriya yang merupakan tetangga Brayden. Kemarin Dooriya menitipkan anaknya yang masih berumur sepuluh tahun itu pada Brayden, karena ia dan suaminya ada urusan pekerjaan di Australia beberapa minggu ke depan.        
Aku tinggal di sisi selatan kota Philadelphia di negara Pennsylvania, yang merupakan negara bagian Amerika Serikat, sementara Brayden tinggal di sisi Downtown atau inti kota Philadelphia. Hari ini kami mulai perjalanan dengan mengendarai mobil mengunjungi Please Touch Museum.
Awalnya Brayden menolak untuk mengunjungi tempat itu, karena ia pikir kemungkinan akan sedikit membosankan berada di sana, namun setelah Lisa membujuknya akhir ia menyerah. Menurut Lisa, ia sangat ingin sekali berkunjung ke sana, karena semua teman-temannya telah mengunjungi tempat itu, dan orang tuanya selalu tidak punya waktu untuk mengajaknya berkunjung ke sana.
Awal masuk gedung Please Touch Museum  ini kami telah disuguhi dengan bangunan yang megah nan luas. Dengan antusias kami segera menuju ke ekshibisi tentang air. Jadi, di sini kita dapat melihat bagaimana asal muasal air, dari hujan turun ke bumi, dan mengalir dari gunung sampai kembali ke laut.
Amazing. Hey Magenta, lihat!” ditariknya ujung jaketku sembari menunjuk  ke  atap.
Yes. Beautifull!”aku mulai menyerukan apa yang Lisa tunjukkan padaku.
Di atas langit-langitnya ada replica awan, sehingga membuat ruangan ini terlihat cantik. Sepertinya perkiraan  Brayden tentang betapa membosankannya tempat ini tidaklah benar, karena sedari tadi ia pun juga menikmati suasana tempat ini.
Kami melanjutkan perjalanan menuju lantai bawah, dan di sana ternyata bernuansa Alice in The Wonderland. Lisa sedari tadi asyik sendiri, mulai dari melihat taman bunga mawar, tea partynya Mad Hatter, dan ruangan yang serba kecil. Tak jarang Brayden memelukku, ia beberapa kali mencium pipi dan hidungku yang mancung. Sudah lama sekali rasanya kami tidak menghabiskan waktu berdua, walaupun sekarang kami tidak hanya berdua, tetapi ada Lisa yang ikut serta.
“I love you, Brad,” kupeluk tubuhnya yang tegap.
“I love you too, Magenta,” dikecupnya keningku.
Aku rasa bukan hanya aku yang menikmati tempat ini, tegur Lisa dengan nada bercanda.
 Kami mengakhiri perjalanan di lantai bawah ini karena perut yang sudah terasa lapar dan minta segera harus diisi. Akhirnya kami memutuskan untuk makan siang di salah satu caffe yang ada di museum ini, kemudian memesan beberapa sandwich. Setelah lunch, kami pun mengakhiri kunjungan di meseum ini, walaupun awalnya Lisa enggan untuk beranjak dari tempat yang lebih terlihat seperti taman bermain dari pada museum ini, namun setelah aku membujuknya akhirnya ia pun setuju untuk melanjutkan perjalanan.
***
            Walaupun udara malam ini terasa sangat menusuk kulit namun yang kurasa hanyalah kehangatan yang di berikan Brayden. Malam ini kami habiskan dengan bercinta seperti biasa di kamar tunanganku itu. Rumah ini nampak sepi karena hanya Brayden yang tinggal di sini. Sementara Lisa sudah tidur di kamar tamu.
            Beberapa kali kuajak tunanganku itu untuk bicara serius mengenai pernikahan kami, namun dia hanya tersenyum dan kemudian memelukku. Sebenarnya aku sudah bosan dengan status tunangan ini. Pernikahan kami sempat tertunda dan akhirnya di batalkan karena kematian orang tua Brayden.
***
            Pagi hari ini aku dan Lisa menyiapkan breakfast dengan  menu cheesesteak yang merupakan makanan khas Philly untuk menjadi teman sarapan. Lisa terlihat cukup hebat dalam membuat cheesesteak. Setelah selesai membuat  cheesesteak dan juga susu hangat, kemudian aku menuju  kamar Brayden untuk membangunkannya.

***
Dengan lahap kami pun memakan cheesesteak yang telah tersaji. Brayden sangat suka makanan buatanku, terlebih lagi cheesesteak. Brayden pun memuji Lisa karena telah membuat cheesesteak yang lezat. 
Dengan mengenakan jas dan juga dasi di lehernya, Brayden nampak rapih dan terlihat sempurna di mataku. Lisa pun juga terlihat cantik dengan seragam yang dikenakannya, serta topi yang menutupi rambut panjangnya itu. Seperti biasanya, pagi ini pun Brayden harus pergi ke kantor, hanya saja kali ini ia harus mengantar Lisa ke sekolah terlebih dahulu. Saat kami menikmati cheesesteak, terdengar suara bel dari balik pintu. Tanpa banyak berpikir, aku pun langsung membuka pintu itu.
“Selamat pagi,” sapa suara laki-laki yang ada di hadapanku ini.
“Pagi. Cari siapa ya?” tanyaku pada laki-laki itu.
Paul, Laki-laki paruh baya yang mengaku seorang kurir pengantar barang. Paul sedikit berbeda dari kurir biasanya yang ada di Philedelphia ini, ia mengikutsertakan seekor kucing dalam kegiatannya mengantarkan barang. Kucing itu sangat manis, dia duduk dengan tenang di bahu Paul.
 Setelah aku menerima bingkisan kotak yang terlihat cukup besar itu, Paul pun pergi melanjutkan perjalanannya. Aneh! menurut Paul bingkisan ini di tujukan untukku, tapi kenapa mengirimnya ke alamat Brayden? dan juga di bingkisannya tidak tertera nama si pengirim.
“Siapa?” tanya Brayden yang kemudian meminum segelas susu.
 “Kurir. Ada bingkisin, tapi terlihat cukup aneh, aku duduk kembali di meja makan.
Whoaa, apakah isinya boneka barbie?” teriak Lisa antusias.
“Mungkin,” jawabku.
            Brayden menyarankanku agar segera membuka bingkisan yang terlihat cukup simple ini. Lisa yang sudah tak sabar mengharapkan isi kotak itu adalah boneka Barbie pun akhirnya ikut serta membantuku membuka bingkisan ini.
Aku menatap tak percaya dengan apa yang kulihat di dalam kotak ini, dan kulirik Brayden yang tersenyum menatapku. Air mataku mengalir seiring rasa  bahagia yang kurasakan sekarang. Dalam kotak itu ada sebuah gaun pengantin yang sangat cantik, di atasnya pun ada sebuah cincin dan kertas yang bertuliskan "Do you be my wife?"
***
            Cincin ini sangat cantik dan terlihat pas di jari manisku, pagi tadi Braydenlah yang memasangkannya. Hari sudah mulai sore, matahari pun sudah nampak lelah untuk memperlihatkan sinarnya. Brayden belum pulang dari kantor, sementara Lisa mungkin sedang bermain di ruang keluarga.

            Kulihat bayanganku di cermin, lalu seulas senyum manis menghiasi bibir mungil itu. Tepat di hari Valentine tahun ini, kami akan melangsungkan pernikahan. Sudah tidak sabar rasanya aku mengenakan gaun pengantin. Kembali kubuka kotak bingkisan yang berisi gaun pengantin itu, lalu dengan antusias mulai mengenakannya. Perfect! Aku terlihat cukup cantik dengan gaun pengantin ini yang membungkus tubuh langsingku. Kulihat bayanganku dicermin, namun bayangan itu makin pudar dan menghilang, lalu gelap!
***
            Kepalaku pusing, badan terasa pegal, dan mataku sangat perih. Aku terjaga dengan masih mengenakan gaun, dan di sampingku ada Brayden. Kulirik jam dinding, pukul sepuluh pagi! Aneh, yang kuingat hanyalah saat bercermin dengan gaun cantik itu melekat di tubuh, namun setelah itu semuanya  nampak gelap! Lalu aku terjaga di pagi harinya dengan kondisi yang sedikit buruk.
Kau sudah bangun, sayang? Brayden terjaga kemudian memelukku.
“Honey, apa yang terjadi?” tanyaku pada Brayden.
            Setelah melepas gaun pengantin yang lumayan sulit untuk di lepas ini, Brayden pun menceritakan kejadian kemarin sore. Menurut Brayden, semalam aku tergeletak pingsan di depan cermin dan pada saat Lisa ingin membopongku ke kasur, tetapi aku malah mencekiknya. Untung saja saat itu Bryaden telah pulang dan kemudian ia langsung menolong Lisa. Aku tidak mengingat apa pun! Aneh sekali rasanya!
***
            Hari ini aku dan Brayden bersiap-siap untuk foto pre wedding. Kami meminta bantuan George yang merupakan sahabat Brayden sebagai photographer pre wedding kami. Tema yang kami pilih sedikit simple, dengan menonjolkan suasana khas kota Philadelphia. Brayden terlihat gagah dengan jas putih yang dikenakannya, dan aku pun terlihat cukup anggun dengan gaun pengantin yang di berikan oleh Brayden. Kami Photo shoot di beberapa tempat, seperti Chestnut Street, Ben Franklin Bridge, dan Love park.
Brayden, kamu yakin nantinya gaun itu yang akan dikenakan Lisa? kata George di sela pemotretan.
“Tentu saja. Kenapa?” jawab Brayden.
“Entahlah, gaun itu terlihat sudah tua. Lusuh,” jawab Goerge berbisik.
***
            Aku sedang duduk di dekat jendela sambil memandang pekarangan rumah Brayden yang luas, dengan di temani gaun pengantin yang cantik. Entah kenapa aku sangat sayang pada gaun ini, dan selalu rindu untuk membelai serta memakainya. Aku heran dengan George yang mengatakan kalau gaun ini terlihat sudah tua, menurutku gaun ini sangat cantik dan desainnya juga modern.
“Magenta, aku ingin memakai gaun itu,” kata Lisa sambil menarik gaunku.
Entah kenapa emosiku memuncak karena Lisa sudah berani memegang gaun ini dan ingin memakainya. Dengan amarah yang sudah berada di puncaknya, kutampar pipi gadis kecil itu. Lisa berlari sambil menangis dan ia pun terlihat memegang pipinya yang merah.
Ternyata amarahku belum padam! Dengan gaun yang masih melekat ditubuhku dan sebuah gunting yang berada di genggamanku ini, aku pun berlari mengejar Lisa sampai ke lantai dasar. Teriakan dan tangisan Lisa justru menambah semangatku untuk menusukkan gunting ini ke tubuhnya yang kecil. Setelah berhasil menangkap Lisa, kutarik rambut pirangnya itu dan kuarahkan gunting yang kugenggam ke matanya!
***
            Suara berisik itu terdengar dari arah lemari pakaian Brayden. Sekarang sudah tengah malam dan Brayden pun sedang terlelap di sampingku. Suara gaduh itu kembali terdengar. Karena penasaran, aku pun menuju lemari itu, dan semakin dekat suaranya pun makin jelas terdengar. Kosong! Di dalam lemari pakaian itu hanya ada gaun pengantin yang sangat kukenal. Kuambil gaun itu dan tersenyum melihat betapa indahnya dia. Namun, senyum di bibirku hilang dan berganti dengan bibir pucat. Gemetar dan menggigil.
Aku mendengar ada suara tangisan yang sangat lirih dari arah lantai dasar rumah Brayden. Enggan rasanya untuk membangunkan tunanganku, lalu aku pun mencari sumber tangisan itu. Kususuri setiap bagian rumah ini yang terlihat nampak gelap. Ah! Tangisan itu terdengar makin kencang, dan betapa kagetnya aku saat mendapati sosok wanita muda yang mengenakan gaun pengantinku sedang menangis lirih di sana, tapi gaun itu terlihat sedikit berbeda. Usang. Kakiku gemetar hebat, dan air mataku pun mengalir deras saat mendapati ternyata di belakang sosok wanita muda itu ada tubuh Lisa yang terlihat pucat dengan gunting yang tertancap di matanya. Aku berlari sekencang mungkin menuju kamar Bryaden.
Kejadian itu membuatku sangat takut tapi Brayden mencoba menenangkan, walaupun aku tahu ada gurat khawatir diwajahnya. Kenyataan pahit harus kami terima kalau Lisa telah meninggal dengan cara yang menyeramkan, dan hal ini masih kami sembunyikan dari orang tuanya.  Satu yang kami ketahui. Semua kejadian janggal ini berawal setelah kehadiran gaun pengantin itu. Aku dan Bryaden memutuskan membawa kembali gaun itu ke tempat Brayden memesannya, yaitu di kota Altoona, Pennsylvania.
***
Aku dan Brayden sudah berada di kota Altoona yang merupakan kota tempat Brayden memesan gaun pengantin. Kami menginap dirumah James dan Nathalie yang merupakan teman akrab kedua orang tuaku. Besok sore rencananya kami membawa gaun itu ke Boutique asalnya.
Brayden sudah terlelap di sampingku, sementara aku yang berada dalam pelukannya sama sekali tidak bisa tidur karena merasa seperti ada yang mengawasiku dari tadi.
Hari sudah semakin sore, aku dan calon suamiku ini pun sedang bergegas menuju Boutique. Jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh sehingga kami memutuskan untuk jalan kaki. Sesampainya di sana, yang kami dapat hanyalah rasa kecewa, karena Boutique itu terlihat sepi. Kami sempat bertanya dengan warga sekitar mengenai Boutique itu. Menurut mereka tempat itu bangkrut dan tidak beroprasi lagi, sementara pemiliknya sudah pindah ke kota lain. Dengan perasaan kecewa kami pun memilih untuk pulang ke rumah James dan Nathalie.
Kami baru tiba di kediaman James setelah langit nampak gelap. Sepertinya  mereka melihat raut sedih di wajah kami, dan dengan sedikit berat akhirnya kami pun menceritakan kejadian-kejadian aneh di rumah Brayden, tetapi kami tidak menceritakan tentang kematian Lisa. Aku menunjukkan gaun itu karena Lucas dan Nancy yang merupakan anak dari James dan Nathalie ini terlihat cukup penasaran. Raut wajah mereka berubah dengan cepat! Mereka semua terlihat seperti orang ketakutan, bahkan Nancy jatuh terduduk setelah melihat gaun itu. Dengan sedikit ragu dan takut, akhirnya Nathalie pun menceritakan kisah tentang gaun yang sekarang ada di genggamanku ini.
***
Kisah tentang gaun itu bermula ketika seorang pandai besi kaya raya bernama Elias Baker, ingin menikahkan putri bungsunya yang bernama Anna. Elias. Elias Baker ingin keluarganya selalu dikelilingi oleh sesuatu yang berharga dan mahal. Tak disangka, Anna ternyata jatuh hati pada seorang pria miskin yang bekerja untuk ayahnya. Elias menolak permintaan putrinya untuk menikahkannya dengan pemuda miskin itu. Dia lalu mengusir pemuda malang itu dari kampung halaman mereka yaitu Altoona, Pennsylvania.
Kesetiaan cinta Anna pada pemuda itu membuatnya menjadi seorang perawan tua seumur hidupnya. Anna begitu marah pada ayahnya karena tidak membiarkannya jatuh cinta atau menikah dengan seseorang yang sangat dicintainya itu, dan kemarahan itu dibawanya sampai ke liang lahat, ketika dirinya meninggal pada tahun 1914.
 Rupanya, sebelum kepergian pemuda itu, Anna sudah memilih sebuah gaun pengantin cantik yang akan di kenakannya saat menikah. Namun karena pernikahan itu tidak terlaksana seperti apa yang diharapkannya, seorang wanita dari keluarga kaya lain di daerahnya kemudian mengambil gaun itu. Gaun itu kemudian berpindah-pindah tangan dan kini ditempatkan di rumah keluarga Baker yang telah dialihfungsikan sebagai museum.
***
Aku merinding dan juga takut mendengar cerita dari Nathalie. James menyuruhku dan Brayden untuk membawa gaun itu kembali ke museum Blair County Historical Society di Baker Mansion, Altoona, namun belum sempat kami melangkahkan kaki, mendadak angin kencang bertiup melewati pintu dan jendela yang terbuka, kemudian dengan cepat semua jendela dan pintu rumah James itu tertutup rapat dan lampu pun ikut padam!


***
Dadaku terasa sesak dan sangat sulit bernafas. Ada rasa sakit yang sangat luar biasa di perutku. Lampu ruang tengah ini terlihat remang. Dengan sisa tenaga yang ada, aku mencoba hanya sekedar untuk duduk. Namun, betapa kagetnya aku saat mendapati pisau yang tertancap di perutku. Walaupun sakit tapi aku mencoba untuk menarik pisau itu.
Ternyata rasa kagetku tidak hanya sampai di situ! Di ruangan ini tergeletak beberapa tubuh yang sangat kukenal dan mereka semua berlumuran darah! Tangan kanan Nathalie putus, sementara James kaki kanannya yang putus. Lucas dan Nancy pun tidak kalah menyedihkan, dengan kepala yang hampir putus dan mata yang terlihat membelalak.
 Tangisku makin pecah ketika melihat tubuh tak bernyawa tunanganku yang bersimbah darah. Kondisi Brayden pun juga mengenaskan! Telinga kanannya hampir putus dan semua jarinya sudah tidak ada di tangan, kecuali jari manisnya! 
Aku berteriak sekencang mungkin! Kudekati tubuh Brayden, kemudian menciumnya. Aku pun memasangkan cincin yang ada di jari manisku, ke jari yang tersisa ditangannya, yaitu jari manisnya!
Seperti ada yang menggerakkan tanganku! Aku pun mulai mengambil pisau yang tergeletak di lantai, kemudian mengarahkannya ke leherku. Di tengah lampu yang terlihat cukup remang, aku melihat ada sosok wanita cantik memakai gaun pengantin dan disampingnya ada lelaki yang terlihat cukup tampan. Sekuat tenaga aku mencoba melawan tanganku sendiri yang ingin melukaiku itu, lalu setelah itu semuanya gelap!











BIODATA NARASI

                                                             
Ricky Douglas, seorang penulis muda kelahiran 14 Juli 1994 ini tinggal di Kabupaten Ogan Ilir, Palembang, Sumatera Selatan, dan sekarang sedang menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro Semarang. Profil lebih lengkap dari seorang penggila dunia sastra ini dapat kalian lihat di Facebook: Ricky DouglasTwitter: @RickyDouglasz, atau email : ricky_douglas@rocketmail.com Terimakasih.




           


Wednesday, April 16, 2014

Payung Kumuh

BY Ricky Douglas IN No comments


Aku memaku langkah pada pertigaan jalan yang terlihat pekat. Malam terlalu kelam untuk dapat teruraikan. Sedari tadi, mataku nanar memandangi pohon kecil yang tak banyak dihinggapi daun ini. Payung kumuhku mengembang, tangan ini terlalu bengal hanya sekedar untuk menyeka keringat yang mulai menampakkan taringnya.
            Hujan kali ini selalu sama. Basah yang ditawarkan alam, tak mampu mengairi kemarau panjang di rongga dada. Ulu hati terasa nyeri saat logika tak lazimku mulai bernyanyi. Sudah dua bulan tempat ini menjadi peristirahatanku dari…rindu yang mulai mencerca.
            Lihat! Bahkan untuk  berucap rindu dalam batin sendiri pun, aku masih seperti tikus yang siap dimangsa seekor kucing. Tak ada ruang untuk membebaskan bibit kecil di muara jiwaku. Sketsa wajahnya terlanjur menjadi lukisan yang kian terpatri di setiap tangisan tertahan.
            Akhirnya, aku hanya mampu menjadi benalu untuk hatiku sendiri. Bukan. Bukanlah dirimu yang terus menghujamku dengan rasa sakit! Bukan pula salah pohon sialan ini yang selalu membawa aroma tubuhmu kepadaku. Hanya saja, saat ini aku lebih memilih menjadi boneka bernyawa. Hah, persetan dengan takdir!

BIODATA NARASI
Ricky Douglas, seorang penulis muda kelahiran 14 Juli 1994 ini tinggal di Kabupaten Ogan Ilir, Palembang, Sumatera Selatan, dan sekarang sedang menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro Semarang. Profil lebih lengkap dari seorang penggila dunia sastra ini dapat kalian lihat di Facebook: Ricky DouglasTwitter: @RickyDouglasz, atau email : ricky_douglas@rocketmail.com Terimakasih.



Monday, April 14, 2014

Nahkoda

BY Ricky Douglas IN No comments




Untuk suamiku. Syair dan nada yang berpagut, selalu berhasil membuatku mengukung diri dalam kamar, dan mulai melukis air di mata. Mungkin, banyak lagu yang mewakili perasaanku pada saat ini, banyak puisi di luar sana yang mampu menembus dan mengoyak benteng pertahananku. Namun, dunia nyata jauh lebih kejam. Nahkodaku telah pergi! Semburat wajahmu kembali menggema dan merongrong di sudut paling dasar otakku. Memaksa untuk segera dimuntahkan menjadi nafsu sesaat.
***
Untuk istriku. Terkadang, mata layuku hampir lepas karena selalu dihujami sosokmu. Sayang, gemuruh rasa rindu yang tak mampu kusampirkan pada hatimu, justru telah menjadi gumpalan nafsu yang menggebu.  Pada malam ini hujan kembali turun tidak pada musimnya. Sama seperti air bening di mataku.
Tak sempat kubuatkanmu sebuah kapal besar yang tangkas. Akhirnya, hanya perahu kecil yang mampu kusandingkan untukmu. Bahkan, aku sebagai nahkodanya pun telah lama menanggalkan perahu reot itu.
“Sayang, kapan kau akan menengok anak dan istrimu ini?” suara istriku nampak getir di telepon.
“Secepatnya, aku…janji!”
***
            Suamiku, tak hanya cinta yang mampu kau tawarkan padaku. Nikmat saat kau melepas kancing demi kancing bajuku pun menjadi hal yang paling kutunggu tiap liur sudah diambang nafsu. Tak sempat kurasakan rintihan yang menggema di setiap malam. Tak sempat kurasakan bobot tubuhmu menghujam tubuh mungilku disetiap gelap. Kau pergi! Tepat pada tahun ke-dua pernikahan kita. Alasan yang sangat klise. Tuntutan pekerjaan!
 “Ibu. Ayah pasti datang kan?”
“Fee, nanti Ibu yang akan mengambilkan rapot buatmu.”  

Mungkin, anak kita merindukan sosok laki-laki tegap yang akan menggendongnya dan mengajaknya bermain. Anakku, Ayahmu pasti kembali! Ia akan menggendongmu dalam mimpinya.
***
Matahari terbit adalah alarm buatku untuk bergegas menapak jalan. Mengais rejeki. Purnama mendelik adalah pertandaku untuk segera bersembunyi di balik selimut. Cuaca dingin kota ini serasa menampar kulitku. Istriku, andai kau ada di sini, pastilah tubuh ini tak sedingin seperti sekarang!
“Ckrek,” tanpa permisi, pintu itu pun dibuka perlahan. Ah, ia datang.
Kasur ini terasa panas. Tubuh sintalnya akan kulumat habis. Maafkan aku istriku. Wanita ini hanyalah boneka saja! Cintaku masih terikat padamu. Hanya saja, aku butuh memuaskan daging yang menjuntai di bawahku ini. Ia kian tersiksa.
***
Suamiku, kasur ini terasa hambar. Tak berguncang sedikitpun! Hanya foto dirimulah yang mampu meliarkan imajenasiku. Untuk orang yang kucintai, dan sekaligus orang yang selalu luput dari pandangan mataku. Gunakanlah memori di setiap malam kita terdahulu, jika kau diambang nafsu. Gunakanlah foto-fotoku jika kau tak mampu menahan birahi. Jangan kau biarkan cincin ini tertanggal hanya karena nafsu sesaat.
-End-





BIODATA NARASI




Ricky Douglas, seorang penulis muda kelahiran 14 Juli 1994 ini tinggal di Kabupaten Ogan Ilir, Palembang, Sumatera Selatan, dan sekarang sedang menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro Semarang. Profil lebih lengkap dari seorang penggila dunia sastra ini dapat kalian lihat di Facebook: Ricky DouglasTwitter: @RickyDouglasz, atau email : ricky_douglas@rocketmail.com Terimakasih.










Wanita Jingga

BY Ricky Douglas IN No comments


Kutatap pundaknya yang kian tertelan jingga. Matahari pun telah lelah bercahaya, dan akhirnya memilih remang sebagai pilihan terakhir. Telah lama kurasakan mati. Mataku kian mengkristal, buliran titik bening itu tertelan ombak yang kian beringas. Kini dia telah pergi. Cinta yang tak mampu berjuang, hati yang kian membatu. Cintanya telah tergerus masa yang tak mampu ia pertahankan.
***
Cincin cantik dengan cahaya indah ini telah melingkar dan tersenyum manis di singgah sana jariku. Cincin yang bagiku hanyalah pertanda kepemilikan. Aku telah dikekang! Diriku bukanlah aku seutuhnya lagi. Merasa terikat walaupun tanpa ikatan batin. Aku bisa tersenyum di pelataran akad nikahku ini, walaupun bayangku tetap terpaku pada panorama pantai dikala bayangnya tertelan pekatnya langit.

Kukoyak mahkotanya. Kudaki gunung tingginya. Kubasuh setiap liur yang tersedia bagiku. Rintihan suaranya makin mengencang  di tengah pendarnya lampu. Kutusuk dalam-dalam, lalu kutarik sekencang mungkin. Begitulah malam hari ini kuhabiskan dentingan waktu bersama boneka bernyawaku.

Setiap hari kuhabiskan waktu dengan lekungan bibir yang dipaksakan tersungging. Perut wanita itu kian membuncit, jalannya pun kini makin terseok-seok. Hebat! Ternyata kepura-puraanku menghasilkan boneka bernyawa lainnya.  Dengan penuh kesabaran, wanita itu menjaga boneka bernyawanya di dalam perut yang kian membundar.

Cengkraman hebat ia lantunkan pada kasur tempatnya berbaring. Darah mengucur dari mahkotanya. Ia bermandikan peluh keringat. Sekali lagi, aku menjadi actor paling handal. Kupegang erat tangannya, kemudian bibir hitamku memberikan nafas segar yang terdengar cukup menenangkan. Sedetik kemudian, tangisan cengeng menyeruak mengotori setiap sudut ruangan ini. Yah, boneka kecilku telah lahir! 
***
Boneka wanitaku terlihat makin bahagia. Senyum terus mengembang diwajahnya yang putih mulus itu. Boneka kecilku pun kini telah tumbuh besar. Seragam sekolah telah melapisi kulit indahnya itu. Setiap malam aku terus menghujamkan pisau tajam ke mahkota wanitaku. Merasakan nikmat dari setiap jengkal sentuhannya, namun setiap bergumul dengannya, justru wanita jingga itu yang hadir dalam fantasiku.

Mataku kian nanar. Kering kerontang menghiasi tubuh lunglaiku. Mata sembab dan hitam selalu menemani bola mata ini. Mimpi itu menjadi teman setiaku selama sepuluh tahun ini. Sekelebat ingatan terdahulu terus melayang tanpa ampun dalam sepiku. Pantai itu! Matahari yang kian lelah itu! Jingga yang kian menghilang! Pundak yang kian luput dari tatapanku! Wanita itu! Runtuh rasanya benteng yang telah aku pupuk dengan kepalsuan ini. Harusnya, dahulu aku berlari dan menghentikan langkahnya! Tidak duduk terpekur di atas pasir dan meratapi derai air mata.

***
Kini, cincin itu tidak lagi berpelukan dengan jemariku. Aku lebih memilih menyimpannya di laci kecil, dan menjadikannya mimpi terindah dihidupku. Dengan berderai air mata, wanitaku meratapi kepergianku. Boneka kecilku pun hanya mematung di balik pintu. Badan kecilnya nampak bergoncang karena menahan tangis. Betapa laknatnya hidupku! Langkahku makin menjauh, pergi meninggalkan mereka. Aku harus kembali mengejar wanita jinggaku.

***

Betapa banyak luka yang kutorehkan di masa lalu, masa sekarang, dan masa depanku. Aku sadar, harusnya aku tak boleh melangkahkan kaki ke depan jika masih terjerat di masa lalu. Tak perduli seberapa jauh kakiku melangkah, ternyata hati ini masih terbenam pada sosok wanita jingga itu.



BIODATA NARASI

Ricky Douglas, seorang penulis muda kelahiran 14 Juli 1994 ini tinggal di Kabupaten Ogan Ilir, Palembang, Sumatera Selatan, dan sekarang sedang menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro Semarang. Profil lebih lengkap dari seorang penggila dunia sastra ini dapat kalian lihat di Facebook: Ricky DouglasTwitter: @RickyDouglasz, atau email : ricky_douglas@rocketmail.com Terimakasih.