Saturday, November 28, 2015

OSPEK KOTA JAKARTA. BAGIAN KE-3

BY Ricky Douglas IN No comments



#PART 3
            Aah, panik bukan main saat menyadari kalau aku naik kereta yang salah. Tidak!!! Tenang, Glas. Jangan panik dulu. Tarik napas lalu embuskan. Tarik lagi, embuskan! Ayo, Glas tarik napas pelan-pelan. Pahanya juga dilebarin dong. Posisi ngangkang sempurna! Habis itu embuskan, tarik, embuskan lagi, dan... ngeden sekencang-kencangnya!

            Walaupun masih panik, tapi setidaknya posisi tarik napas dan ngangkang seperti ibu-ibu melaharikan ini mampu mengurangi sedikit kepanikan. Tidak percaya? Silahkan dicoba! Buahahaha. 

            Beberapa teman kutanyai mengenai masalah yang datang silih berganti ini. Dari grup-grup WhatsApp.

            “Guys, duh aduh ah ah ah enak gimana yaa gua salah tujuan kereta nih? Niatnya turun di Stasiun PSE (Pasar Senen) tapi di tiket malah akhir tujuannya tuh di Stasiun Gambir?” tanyaku. 

            Lho, Glas... emang sebelumnya enggak check tiket-nya?

            “Em, kagak. Gua kan panik tuh yaa tadi pagi udah ketinggalan kereta. Makanya gua bilang aja sama bapak penjual tiket minta cariin keberangkatan ke Jakarta yang paling cepet.”

            “Wah, setahu-ku sih Dek Ky yaa, emm bisa kok tujuan akhir Gambir tapi nanti turunnya di PSE,” ucap Mba Wa. Salah satu temanku di grup kepenulisan. 

            “Tapi, kayaknya beda jalur deh,” ucap Bang Heruka. 

            “Iya, beda. Jadi kalau yang PSE itu khusus ekonomi. Kalau yang tujuan akhir Gambir khusus kelas Eksekutif dan bisnis,” tutur Mba Elisyok. 

            What? Ha?? Iya, Kah? Omaaaaiii.... Makin paniklah aku. Tapi, tenang. Jangan panik dulu, Glas! Coba tarik napas lalu ngangkang selebar-lebarnya. Di kursi, aku mulai membuka kaki lebar-lebar, lalu tarik napas. Dan sialnya, bapak di samping malah senyam-senyum melihat aksi menggelikanku ini. Aggrrrrh!!!

            “Em, anu Pak. Kira-kira kalau turun di PSE bisa gak ya?” tanyaku mengalihkan fokusnya pada tingkah anehku beberapa waktu lalu. 

            “Olaaaahh yaa gak bisa toh, Mas. Beda jalur soalnya. Ini tujuan akhirnya ya stasiun Gambir.”

            Matimak!!! Mampus gua. 

            Berbekal otak cerdas walaupun tidak cumlaude, aku pun bertanya pada teman-teman dan Mba-ku yang di Jakarta. Ada yang menyarankan naik kopaja, bajaj, atau commuter line saja ke PSE. Kenapa aku ngotot ke stasiun pasar senen? Karena di sanalah Mbak kandungku bernama Ricca Lestari akan menjemputku untuk selanjutnya menginap di kosan dia. 

            Dan, sebuah kesimpulan pun membabi buta di otakku. Yap, akhirnya kuikuti saran dari Mba Ricca yaitu naik GOJEK! Yahoooo, baru kali ini pula aku mengerti betapa sangat membantu sekali ojek online ini. Lewat smart phone, ku-download aplikasinya. 






    
            Bisa kalian lihat kan, jadi tujuanku sedikit berubah. Dari titik awal pertemuan di stasiun Pasar Senen kini menjadi gondangdia. Alasannya karena stasiun itu lebih dekat dari lenteng Agung yang merupakan tempat tinggal Mba Ricca. 

            Setelah memesan GOJEK, tak berselang berapa lama panggilan masuk ke hape-ku.

            “Halo, selamat siang. Benar ini dengan Pak Ricky?”

            “Oh, iya dengan siapa ya?”

            “Saya dari Gojek yang bapak pesan. Ini bapak nunggu di mana ya? Saya sudah dekat dengan stasiun Gambir?”

            “Ha??? Udah dekat dengan Stasiun Gambir??? Lhoo, Mas... saya ini masih di dalam kereta, sampe di Gambir mungkin sekiat jam lima sore. Gimana? Nanti ke sana aja jam lima ya?”

            “Oh, masih di dalam kereta. Wah, gini aja Pak tolong di cancel pesanan bapak. Soalnya kita gak bisa booking gitu Pak. Kalau pesan gojek harus sudah stand by.”

            “Oh, jadi gojek itu gak bisa melayani pesanan ya? Misalnya saya pesan sekarang tapi untuk jam lima itu gak bisa ya?”

            “Gak bisa, Pak. Bapak pesan gojek-nya nanti aja kalau udah sampe di Gambir. Soalnya kita fast respon kok, Pak. Paling lima menit dari pemesan udah sampai di lokasi.”

            “Oh, gitu.”

            “Yaudah, tolong di-cancel aja ya, Pak. Kalau gak di cancel saya gak bisa narik lagi nih Pak. Tlong banget ya, Pak. Biar sama-sama enak. Saya kan cari uang juga,” ucap abang gojek memelas padaku. Aduh, kasian sekali nada bicaranya. 

            “Oke, Mas. Tapi, em... cara cancel-nya bagaimana ya?” tanyaku polos, nyaris bodoh. 

            “Ke bagian historis aja, Pak. Nanti di sana klik cancel. Tolong ya , Pak. Saya di sini juga cari nafkah. Soalnya kalau gak di cancel, saya gak bisa nerima pesanan yang lainnya.”

            Ohh jadi gitu sistemnya tah, batinku.

            “Oke, baiklah. Ditunggu aja, Mas.”

            Obrolan dramatis dengan Mas Gojek pun berakhir. Aku membuka pesan bbm dari Mba-ku yang baru saja masuk. 

            Ohh iya, Dek. Pesan GOJEK-nya nanti aja yaa nunggu kamu sampe di gambir.
Agggggggggggrrrhhh, telat banget baca nih bbm.

            Kereta masih melaju. Tanpa pernah punya keinginan unuk berhenti sekarang. Yap. Begitulah mengerikannya pilihan manusia saat menaiki sebuah kereta. Harus mempunyai tekad yang mantap karena sekali menjajakkan kaki, kalian harus rela terus melaju meski hati ingin kembali. 

            Panorama kiri dan kanan bertaburan hutan, kemudian luatan luas, dan juga persawahan. Berkali-kali aku berusaha untuk meng-cancel sang gojek tapi tetap saja tidak bisa. Nihil akan sinyal.

            Dering telepon kembali terdengar. Kali ini si gojek menelpon lagi. Untuk keduanya kalinya, ia memohon segera dibatalkan pesanan. Ahh, andai sinyal di kereta ini tidak sedang jahat hati padaku, mungkin akan segera kupenuhi permintaan sederhana ini. Berbekal kesabaran Zainudin yang menunggu Hayati, akhirnya aku pun berhasil membatalkan pesanan si Mas Gojek. 

            Niatnya ingin mengetik di dalam kereta pun kandas karena atmosfir yang tercipta benar-benar tak mengenakan diri. Pergi dari Semarang seperti kehilangan kekasih yang sangat dikasihi. Lantas, tidur pun menjadi satu-satunya pilihan untuk menghilangkan gundah yang semakin mengganas. 

***
            Tepat pukul lima lebih lima menit sore di hari kamis, kereta pun sampai di stasiun Gambir. Satu ransel dan satu koper menemaniku berjalan di gerbong kereta, turun ke peron, dan akhirnya duduk di salah satu minimarket yang masih dalam kawasan stasiun. 

            Ini dia saat yang tepat pesan GOJEK buahahahaha, batinku sambil cengar-cengir. Di emperan mini maerket, aku membuka aplikasinya. Mengisi prosedur, menginput data, lalu enter pesenan. Dahiku berkerut, mata menyipit, duh kenapa dengan aplikasi ini? Dari tadi loading terus. Hmm, apa Mas Gojek-nya lagi sibuk ya? Atau desas-desus kalo usaha ini bangkrut ternyata benar? Atau mungkin... habis pulsa?!!! Dengan tertatih jemariku mengetik di layar touch screen. 

            Cobaan apa lagi ini? Ohhh, no! Sedang panik-paniknya benerin bulu mata, eh Mba Ricca bbm. Dia memberitahu kalau sudah sampai di Stasiun Gondangdia. Makin paniklah aku. Untung saja mini market ini mampu menyelamtkan. Setelah mengisi pulsa, aplikasi gojek pun berjalan lancar. Saatnya menunggu sang driver di Dinas kelautan (kalau tidak salah) depan Stasiun Gambir.
            Jalanan di satasiun ini ramai sekali. Semua orang kebanyakan membawa koper bersama mereka. Ada yang muka datar, muka cemberut, bahagia menyambut saudara, teman, atau keluarga yang datang, ada juga yang bermuka masam, sepertinya ketinggalan kereta sama sepertiku tadi pagi buahahahaha.
            Ada satu panggilan masuk. Dari Mas Gojek!

            “Halo, Pak,” ucap suara di seberang telepon. 

            “Iya, Mas udah sampai mana?” tanyaku pada Mas Gojek.

“Ini udah di depan keluatan, bapak di mana?”

            Tunggu dulu? Ha? Dia di depan kelautan? Oh shit! Aku salah ngasih arahan, dan dia pun salah tanggap. Entah siapa yang salah karena memang tak penting mengetahuinya, yang jelas kini kami terpisah dua baris jalanan ibu kota yang padat kendaraan. Kami saling tatap dari seberang jalan. Matanya menatap sedih mataku, sedangkan mata indahku ini menyiratkan tanda maaf padanya.

“Wah, nunggunya di halte gambir ya? Kok tadi bilang di depan kelautan?” tanya dia sopan. 

Anu, ini, ah, uh, ih, ahh, yang aku maksud di depan itu yaa di seberang jalan Mas. Bukan di depan gedung keluatan-nya persis, batinku tak kuat bicara menahan cobaan ini bauahaha, lebay banget yak. 

“Maaf saya salah kasih petunjuknya Mas,” ucapku akhirnya.

“Yaudah tunggu di sana ya, ini muter jalan dulu.”

“Thanks.” 

 Tiba-tiba laju kendaraan seakan menjadi pelan,bergerak slowmotion. Entah darimana, terdengarlah suara merdu Afgan dengan lirik yang terdengar aneh. 

            Terima kasih Gojek untuk segalanya, kau berikan lagi kesempatan itu. Tak kan terulang lagi semuaaaaa aaahhhh kesalahanku yang pernah menyakitimu ohhh uwoohhh uwoohh uwohhhh hooooo

            Lima menit kemudian dia beserta helm berwana hijau menyalak miliknya pun datang tepat di hadapanku. Dari jarak sedekat ini barulah kuketahui bahwa si Mas Gojek ini masih muda. Paling usiaya dua puluh tiga tahun. Dua tahun lebih tua dariku, sepertinya. 

            “Di depan aja kopernya,” tawarnya. Lalu memindahkan koper ke  bagian depan motor matic.
            Mas Gojek masih berusaha mencari posisi enak buat menaruh koper. Tapi beruntunglah dia mendapatkan pelanggan sebaik diriku, karena kasihan melihatnya kewalahan, aku pun menawarkan diri membawa kembali kopernya. 

            “Thanks,” ujarnya. “Lu mau pake masker, Bang?” lanjutnya.

            Hm, nada bicara si Mas Gojek berubah dari sebelumnya. Kini terlihat lebih santai, yah mungkin karena dia paham kami hampir seumuran. 

            “Boleh,” jawabku mantab. Dan, kami pun memulai perjalanan. 

            Belum ada satu menit melaju dari tempat awal, motor melaju pelan hingga menepi di pinggir jalan. Mas Gojek turun, ia menemuoi temannya yang tengah nangkring di sekitar Stasiun Gambir. Berkat telingaku berdaun lebar dan bersih dari kotoran-kotoran yang menempel, aku pun mampu menguping pembicaraan mereka. Intinya, tuh si Mas Gojek mau menukar motornya yang ban depannya kempes. Setelah dapat persetujuan dari temannya, kami pun kembali melaju menggunakan motor yang masih matic. 

            Serius, untuk pertama kalinya aku percaya dengan adegan-adegan di FTV salah satu stasiun swasta di Indonesia. Saat orang kampung melihat takjub gedung-gedung Jakarta. Dengan muka cengo, mulut terbuka, mata berbinar, ludah naik-turun, dan segala kepolosannya. Hal itu pun terjadi padaku. Bedanya, aku tidak membawa ayam dalam pelukan yang merupakan ciri khas FTV ketika orang kampung pindah ke kota. Duh aduh, di Semarang memang tak sebanyak ini gedung pencakar langitnya, aku terlihat kecil sekali di sini. Maskot kota Jakarta pun terpampang jelas dari jalanan yang kulalui. Meski lalu-lalang kendaran cukup padat tapi alhamdulilah tak sampai macet.

            “Lhoooooo, Mas??? Ini kan halte Gambir tadi, kok kita balik sini lagi???” tanyaku panik. 

            Jangan-jangan dia mau menculik-ku. Membawa ke tempat sepi, sunyi, gelap, pengap. Lalu dengan sadisnya dia memutilasi tubuh berhargaku ini. Agggggrrrrhhh tidak!!! Aku harus turun dari sini!

            “Oh, ini emang jalannya muter Bang,” jawabnya sekenanya. 

            Eh? Iya, kah? Ah macaaa cihh??? Bukannya udah hampir lima belas menit ya? Jadi perjalanan tadi cuma untuk putar balik arah? OMEGIII astaga dragon sekalii yaaa jalanan Jakarta. Hah, untunglah, setidaknya pradugaku tentang penculikan barusan pun kandas. 

            “Enak Mas jadi Gojek?” tanyaku tiba-tiba. 

            “Enak-enak aja Bang. Namanya cari duit, harus dinikmati kalo kagak mau stress.”

            Wuih, bijaknya nih orang. 

            “Udah lama bisa naik motor?” Pertanyaan tidak pentingku mulai bermunculan. 

            “Waah udah lama. Bang. Tenang aja, kita gak bakal kecelakaan kok hahaa.”

            Waduh, padahal bukan itu yang kutakutkan. 
 
“Emmmm... engg... Gojek ada yang pake mobil gak sih, Bang?”

“Hahahaha kagak adalah, bang. Ini khusus motor. Kalo mau mobil yaa namanya taxi dong wkwk.”

Oh iya juga yaaa. Kok dia pinter sih? 

“Orang baru ya bang di Jakarta?” tanya Mas Gojek meneruskan obrolan. 

“Wuiiihh kok bisa tahu, Mas?” tanyaku takjub dengan mata berbinar seperti choper, Luffy, dan Usop saat melihat nipple lighting-nya milik Franky buahaha. 

“Keliatan dari mukanya. Masih polos wkwkwkw.”

“Apa? Muka ganteng?”

“Muka polos, Bang -_-“

Puas mengobrol, aku pun kembali menikmati panorama Kota Jakarta. Laju kendaraan padat. Merayap. Tapi seru. Melihat kawasan yang beraneka ragam. Dari gedung-gedung menjulang tinggi. Taman kota. Hingga pasar yang merupakan akhir daru tujuanku. 

            “Ini udah sampai di Stasiun Gondangdia, Bang.”

            “Hee?? Ini kan pasar??”

            “Iya emang deket pasar kok.”

            “Oke, Mas. Turunin Hayati di rawa-rawa gua di gerbang utama stasiun-nya ya,” pintaku. 

            “Mana ya pintu utamanya?” gumam Mas Gojek yang lebih seperti bertanya pada dirinya sendiri. 

            Setelah menanyai orang yang lewat, dia pun menurunkanku di gerbang samping stasiun. Jadi di gondangdia ini ada tiga pintu masuk; depan, kiri, dan kanan, tapi kesemuanya tak jelas mana yang pintu masuk utama. Terlihat sama. 

            “Nih, Mas uangnya.” Aku menyerahkan uang lima belas ribu ke Mas Gojek. 

            “Thanks, Bang,” ucapnya lalu berlalu. 

            Naik gojek ini dikenakan biaya 15rb rupiah dari jarak 0-15km. Dan apabali lebih dari jarak maksimal, akan dikenakan biaya tambahan. 

            Koper super duper besar milikku kembali berjalan. Rodanya berbunyi pelan akibat batu kerikil di sepanjang jalan. Duh, di mana ya Yuk Rica? Hm, bukannya udah sampai? 

            Satu bbm masuk. 

“Adek di mano? Ini ayuk ado di gerbang samping nih.”

“Lho ini aku jugo di gerbang samping. Kok dak katek?” 

Aku celingak-celinguk melihat jalan. Tapi tak ada. Memang, aku belum masuk dalam area stasiun, tapi dari pagar luar pun seharusnya sudah terlihat jika Yuk Rica udah sampai. Betul kan? 

“Ayuk di gerbang samping yang depan pasar, Dek.”

“Oalaaaaaah, sek sek... tunggu yooo,” ucapku. 

Dan benar saja, setelah menenteng koper ke gerbang depan pasar, Yuk Ricca sudah tergeletak di sana. Tangannya ia rebahkan di atas pagar stasiun. 

“Halooo Yuk. Apa kabar?” tanyaku. Lama sekali tak bertemu makhluk ini. 

“Baik dong. Oh iya, kita pulangnya nanti aja ya. Kalo jam cak ini ramai banget di kereta Dek. Soalnya jam pulang kerja.”
 
“Yaudin kita cari makan dulu yok!” 

Tak berjalan seberapa jauh, sebuah food court kami pilih sebagai tempat mengisi perut dan memanjakan cacing di dalamnya. 



Foto yang berhasil kuambil dengan niat secara diam - diam, tapi orang ini terlalu peka terhadap sorotan kamera. Di sini aku memesan satu mangkuk makanan berkuah, mirip soto sih. Sementara Yuk Ricca mengaku sudah kenyang, jadi ia hanya memesan minuman. 

Mataku melihat sosok yang sungguh menggiurkan. Sebuah lambang stasiun TV, yaitu MNC yang tertempel di baju seragam laki-laki di depanku. 

Agggrrrhhhh, jangan bilang dia crew stasiun tv-nya?? Tapi kalo dilihat dari seragamnya sih kayaknya betul!!! 

Dengan cekatan, aku melihat sekeliling. Dan benar saja, dari sini aku mampu melihat sebuah gedung menjulang tinggi dengan tulisan MNC NEWS di atasnya. Widiiihhhhh boleh juga nih mampir ke sana. Niat mampir pun kandas karena ada ide lain yang melintas. Setelah menyapu debu dari muka menggunakan tisue, aku pun  berjalan pelan ke toilet melewati crew MNC. Sengaja kubuat mimik yang terlihat keren. Elegant. Limited Edition. Namun naas, kaki sudah sampai di ambang pintu toilet tapi tak ada satu pun yang menoleh. Hikss.

Malam makin meninggi. Tapi, pekatnya tak mampu menghitamkan langit Kota Jakarta. Di sini terlalu banyak kerlip lampu menembus hiruk-pikuk manusia. Begitu pula aku dan Yuk Ricaa yang saling berbagi cerita di food court sederhana dekat stasiun Gindangdia ini. Pengalaman selama di Semarang, pun juga pengalaman Yuk Ricca dua tahun di Jakarta. Semua terasa begitu kental. Padat. Tak ada jeda waktu untuk berhenti mengobrol, yaaah kecuali untuk update sosmed wkwkw. 

“Udah jam delapan malam nih, Dek. Yuk cabut!” ajak Yuk Ricca.

“Okay, yuk.”

Kami berjalan setelah membayar uang makan. Namun, baru saja keluar dari sini koperku sudah bermasalah. Ahhh, pegangannya rusak jad tak bisa lagi ditarik. Alhasil kugendong saja koper berkilo-kilo gram ini. Keringat bercucuran. Orang di dalam stasiun lirik-lirik padaku. Susah ya jadi orang ganteng? Wkwkwk. 

“Kenapa sih kopernya digendong-gendong gitu? Yaudah gapapa satu gagangnya patah, kan masih ada yang satunya lagi,” ucap Yuk Ricca. 

Iya juga ya? batinku berucap pedih.

            Berkat ide cemerlang Yuk Rika, akhirnya aku tak lagi menggendong koper bak seorang kuli panggul yang tersesat di stasiun. 

            Kami, atau lebih tepatnya hanya aku saja, membeli tiket comuuter line dari stasiun gindang dia dengan tujuan akhir di stasiun Lenteng Agung. Tiket ini berbentuk card yang mirirp kartu ATM, e-ktp, dll. Bermodalkan uang dua belas ribu, aku sudah bisa mendapatkan satu tiket. 

            Perjalanan pun di mulai. Di dalam kereta kentara sekali atmosir langsung berubah. Dingin AC menyambut kami. Ramai orang di kiri kanan pun menjadi penghias di sana. Memang sudah tak seramai saat jam pulang kerja, tapi kami harus bersabar berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk. 

            Kuperhatikann sekeliling. Kebanyakan orang di sini memasaang sikap anti terhadap orang lain. Apatis. Mulut ditutupi masker. Headset menutup telinga. Ransel atau tas lainnya di pindahkan dari punggung ke depan perut mereka. Tangan bersidekap. Ini benar-benar perawakan orang yang masa bodoh dengan lingkungan. Lebih gilanya lagi, sudah jelas ada aturan kursi di dalam kereta itu diperuntukkan/diprioritaskan kepada Ibu hamil, Ibu yang membawa anak balita, atau pun lansia, tapi ada saja yang melanggarnya!

            “Jangan terlalu percaya sama orang. Ini Jakarta. Banyak kejahatannya. Tuh tasnya taruh di depan aja, Dek,” suruh Yuk Rica. 

            Sebagai adik yang patuh dan menggemaskan, aku akhirnya mengikuti saran sang maestro angkutan umum KRL. Untuk menghilangkan kebosanan di jalan, kami akhirnya memutuskan hal ter-mainstream seperti yang kuhabas di atas. Yap. Memakai headset.
 


            Kereta beberapa kali berhenti di stasiun lainnya untuk menurunkan dan mengakut penumpang lain. Kali ini, dari arah pintu otomatis comuuter line, muncul-lah 7 manusia harimau laki-laki yang berdiri tepat di bealakang Yuk Rica. Tapi bukan hal itu yang menarik perhatianku, melainkan tatapan para penumpang yang tertumbuk satu arah. Ke arah atas. Wuih apa yang mereka lihat di kereta ini? Dan yuhuuuuu, ini dia yang mereka lihat.

            *Bersambung


Baca PART 4 (DI SINI)

Monday, November 23, 2015

OSPEK KOTA JAKARTA. BAGIAN KE-2: MEMORI LAWAS

BY Ricky Douglas IN No comments



BAGIAN KEDUA: MEMORI LAWAS


Mata masih melotot. Gigi bergemetak. Detak jantung berdegub kurang ajar. Bagaimana jika benar-benar aku tak sempat mengambil koper sekarang. Di sanalah sebagaian pakaian yang nanti akan kukenakan di Jakarta. Pun juga ada beberapa kabel-kabel gagdet yang sangat penting.


Rahul, please ambilkan koper Anjali yang tertinggal di pos satpam, ucap batinku penuh kesedihan. Kepedihan. Kepahitan.


Tapi, tidak. Tak ada gunanya menggantungkan hal apa pun pada orang lain. Dengan gesit aku turun ke peron dan kembali ke ruang tunggu penumpang. Suara kereta kembali terdengar, para petugas pun melakukan gerak-gerik yang menunjukkan kereta segera pergi. Lariku makin kencang, dengan sigap, tangkas, perkasa, aku menyambar koper yang berdiri kokoh di pos satpam. 


“Pak, kopernya saya ambil ya. Makasih.” Tanpa menunggu balasan si Bapak, aku pun berlari masuk peron.


Ah, keretanya mulai bergerak. Sekuat tenaga, aku menggendong koper. Dan, hap. Berhasil. Kaki kokoh berbulu domba milikku pun mampu menginjak pintu masuk gerbong kereta. Huh, hari ini tidak benar-benar buruk ternyata. 


C3. Itulah nomer yang tertera di tiket-ku. Berharap sekali orang yang duduk didekatku nanti adalah orang yang se-orang-orangnya. Nah kan jadi ribet ngomongnya. Maksudku, orang sebelah semoga tidak memiliki bau badan yang berlebihan, tidak rese, dan tentunya bukan pecuri hihihi. 


“C3...c3...c3...,” ucapku pelan sambil menoleh kiri kanan. “Ketemu!” 


Segera, tanpa ba-bi-bu-be-bo lagi, kududuki kursinya. Hm, orang sebelahku belum ada, mungkin dia akan naik di stasiun berikutnya atau malah orangnya sedang tersasar? Entahlah. Tak selang berapa lama, Bapak-bapak bangkotan berpakain hitam mendakatiku. Ia tersenyum lalu menggeletakkan pantat di kursi sebelah. Ha, untung beliau sepertinya orang baik-baik, jadi bisa menikmati perjalanan. 


Kereta terus saja melaju. Dari jendela, aku mampu melihat bangunan kota Semarang yang bergerak cepat. Aku telah meninggalkan mereka di belakang. Bangunan-bangunan yang tentu bersejarah bagiku. Untuk menghibur dari rasa sakit mendadak, kuputar lagu dengan headset melekat di lubang telinga. Dan, ahh aku lupa kalau hape-ku hanya ada satu lagu, dan itu pun kiriman teman lewat WhatsApp. Tapi, tak apa. Tetap saja kudengarkan lagu yang artinya hanya sedikut kumengerti. 


Semarang, walaupun aku tak besar di sini, tapi dalam jangka tiga tahun ini kau benar-benar memberiku segalanya. Pertemuan. Pertemanan. Sahabat. Keluarga. Kau memberiku canda. Tawa. Tangis. Dan kini hal terakhir yang mampu kau tawarkan adalah perpisahan. Aku bahagia karena kini telah memiliki dua kampung halaman. Palembang dan Semarang. Tapi jujur, untuk benar-benar pindah dari kota-mu ini rasanya sungguh berat. Lebih berat dari putus sama mantan terakhirku. Lebih berat daripada sidang fakultas sekalipun. Bahkan lebih berat daripada kebelet pup tapi masih harus menahan karena tak ada toilet. Seberat-beratnya perpisahan adalah meninggalkanmu, Semarang. 



Aku menemukan semuanya di sini. Bertemu makhluk pertama bernama Kamal, Maratus, Rani, lalu Titus. Aku pun akhirnya memiliki apa yang mereka sebut genk, Yah, Untitled. Kisah klasik yang sering terjadi cinta sesama sahabat di antara kami. Aku rindu masa di mana muka lugu dan riuh gurih tawa mereka menemani. 


Setelahnya, kau hadirkan empat laki-laki di hidupku untuk membentuk suatu band. Kami menamai diri sebagai FIMEE. Meskipun sekarang tak ada rimbanya, setidaknya terimakasih buat kalian; Dimas, Robi, Tito, Rendy, yang sudah mempercayakan aku sebagai vokalis band. 


Tak bersalang, kau tambahkan lagi warna di hidupku. BUIH pun muncul. Anak-anak gila, gokil, absurd yang kutemui dari seni teater kampus. Dari mereka aku belajar caranya tertawa lepas tanpa beban. Pergi sejauh mungkin untuk mengolah rasa. Bayusuta, KP, dan semuanya, kalian akan selalu tersimpan. 


Dan, ah, di masa-masa tua-ku sebagai Mahasiswa, aku diberi lagi satu cobaan yang sungguh terasa berat bagiku. Semarang, kenapa kau hadirkan lagi orang-orang yang begitu kucinta untuk nantinya kutinggalkan. Mereka bernama TwoPiece. Aku yang memberi nama. Alasanya klise, aku sangat suka dengan anime One Piece karena pertemanan mereka yang solid. Dan dengan harapan yang sama, nama 2piece pun kusematkan pada ke-delapan temanku. Dari kalian aku mengerti betapa indahnya pertemanan. Kita bukan lagi sahabat. Tapi kita keluarga. Dengan kalian, aku merasa nyaman dan aman. Sungguh, aku benci jika mengulas tentang kalian, karena air mataku mungkin akan turun lagi. 


Di dalam kereta ini kuputar satu video yang sengaja kubikin baut 2piece. Potongan photo dan video yang kurangkum jadi satu. Di dalam video, aku melihat jelas raut bahagia kita. Ah, malu sekali dengan bapak di sampingku ini, mungkin ia sudah menyadari tangisan pecah dari mataku. Aku berpaling menghadap jendela, berusaha menyembunyikan tangis dan sesak yang benar-benar menyakitkan. Video tentang kalian masih terus berputar di laptop dengan backsound lagu Pertepan semua tentang kita dan juga iringan isak tangisku.     


Dan sialnya lagi, beberapa orang kembali hadir di hidupku. Untuk kesekian kalinya, aku pun terlanjur sayang dengan mereka. Ini teman-teman casting Semarang. Momi Ivon, Momi Ida, Bunsal, Momi Netty, Mommi Novi, Mas Alam, Mas Caisar, Mba duo Dian, Wielina, Berlian, Alisha, Mba Ranny, dan semua Crew IMPRO. Dari mereka aku mengerti tentang perjuangan menggapai cita-cita. Belajar memusnakan persaingan tidak sehat. Belajar tulus iklash berbagi ilmu. Keluarga baru yang benar-benar memberi sejuta ilmu. 


Aku kira di detik-detik terakhir-ku di Semarang sudah tak ada lagi kumpulan orang yang akan membuatku nyaman. Tapi, aku salah. Bertemulah aku dengan anak-anak pencak silat Merpatih Putih Semarang. Meski aku tak paham apa arti diriku di mata mereka, tapi setidaknya aku sadar kalau tulus ingin mengenal mereka jauh lebih dalam. Aku suka saat dengan baiknya Bang Ipul yang menemani menjual motor. Bahagia dan simpatik mendengar cerita panjang lebar Wawan tentang masa lampau, masa sekarang, dan masa depan dirinya. Dan juga tersenyum riang saat bercanda dengan semuanya. 


Terimakasih juga untuk someone yang namanya sudah tiga tahun ini selalu di hatiku. Dari awal di semarang sampai akhir kepergianku pun hanya dia yang mampu menyentuh hatiku. Dia seorang. Tak pernah berubah sejengkal pun. Maafkan aku yang hanya bisa melihatmu diam-diam. Mengagumimu dari kejauhan. Mencandui senyummu setiap saat. Maafkan aku yang tak pernah memperjuangkanmu sedikit pun. Bukan tak mau, hanya saja, aku memang menikmati cinta dengan cara seperti ini. Meski hal yang kusebut cinta telah menjadi lentera padam yang sukar menyala, tapi tak apa. Aku tetap akan mencari sinarnya. Maaf untuk tidak bisa mengucapkan kalimat perpisahan padamu. 



Terimakasih tiga tahun ini, Semarang.
Di dalam kereta, mata semakin mengantuk. Dan tanpa sadar aku beberapa kali terbangun, terjaga, terbangun lagi, dan terjaga lagi. Inilah keadaan kereta yang kunaiki. 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2ELJzokP9jQvF3AOi003t0QtG9YtE4f-JTCkMPUgRoD2E_lk-ZyDMHWBxjlLwKjdlAPY8_3ZmOnELj5tOVN4LcGvQSJdt-S6GTo9_gRQvyCaAFbConuJELJK1cLbUiJGhweqlrLdCsvg/s320/IMG_0901.JPG
Kondisinya tak buruk. Kursi nyaman. Pendingin udara mantab sekali. Ha, meskipun tadi pagi ketinggalan keretea, rasanya aku tak menyesal menaiki kereta yang ini. Aku senyum-senyum sendiri melihat tiket di genggamanku. Lalu kuciumi terus tiketnya. Kurekatkan dengan bibir tipisku yang menggemaskan (Kata Heldy) buahahaha. 


Tapi, ada yang berbeda. Rasanya, aku melihat tulisah aneh di secarik perahu kertas ini. Kuteliti lagi semua kalimat yang ada di tiket. 

Berangkat: Semarang Tawang (SMT). Kamis 19 November 15, 11:30 WIB. 


Oke, pada bagian ini tak masalah. Lanjut ke tulisan di bawahnya. 


Tiba: Gambir, Kamis 19 November 15, 17:00 WIB. 


WHAT??? GAMBIR??? Bukannya stasiun akhir tujuanku adalah Pasar Senen??? Agrrrrhh!!! BERARTI AKU SALAH NAIK KERETA???!!!

           

*Bersambung

Baca PART 3 (DI SINI)


Saturday, November 21, 2015

Cerita Tentang Tradisi Tingkat Dunia. Bagian kedua; Hal yang paling mengerikan.

BY Ricky Douglas IN No comments



            Part II.
            Kenapa aku begitu tertarik dengan kenangan dan selalu ingin mengulasnya? Hm... menurutku manusia adalah kumpulan dari kenangan. Sebuah wadah yang jika didedah hanya berisi ingatan tentang apapun. Ingatan penting. Ingatan tak berguna. Ingatan hambar. Ingatan buruk. Baik. Manis. Segalanya! Yap. Manusia adalah kenangan.  

            Jika membedah ingatanku satu setengah bulan lalu, maka hal yang paling dominan akan kalian temui adalah memori tentang Merpatih Putih. Saat aku berjalan pelan di parkiran Dinas Perhutani. Saat perjumpaanku dengan laki-laki bernama Danu. Kemudian berlanjut ke anggota perguruan yang lain. Semuanya begitu manis. Dan, aku sadar telah jatuh cinta dengan lingkungan ini. Untuk merayakan rasa cintaku, aku pun harus membuat mereka tak mudah melupakanku. 

Segala cara kulakukan. Senyum kuda. Ketawa kuntilanak. Bertingakah aneh. Kekanak-kanakan. Membuat diri terlihat seperti badut. Menyebutkan dan memperkenalkan diri tanpa henti. Berbicara betapa besar obsesiku ingin menjadi seperti Naruto. Ah, andai mereka tahu, semua itu hanya akal kusaja untuk tak ingin dilupakan. Karena aku sadar, setelah pindah dari kolat ini, jangankan membicarakan tentangku, membayangkan sepintas pun belum tentu. Cukup! Aku terlalu jauh mendedah kenangan. Lebih baik kembali pada masa lima hari yang lalu. 7 dan 8 November. Saat tradisi yang kujadikan ajang membuat kenangan baru.
***



07 November 2015
PUKUL 15:00 WIB

            Seragam yang sama masih menemaniku berbaris di lapangan luas ini. Bedanya, bau kecut mulai timbul dari kerah di sekitaran leher. Lipatan ketiak. Dan sekitaran pantat. Tapi, bau inilah yang membuatku semakin semangat buahahahaha.

 Kali ini, semua genk bikers sudah sampai. Kabar buruk datang bersama mereka. Sebab kenapa keterlambatan datang tentunya. Salah satu genk bikers bernama Evan mengalami kecelakaan yang mau tidak mau harus mengurungkan niat ikut tradisi. Sementara itu, para bikers lainnya tentu dengan rasa tanggung jawab karena telah melakukan dosa ternikmat menemani Evan di rumah sakit sebelum orang tuanya datang menjenguk. Evan, lekas sembuh ya, Nak. 

Suasana lapangan selalu gaduh sebelum ada komando dari panitia. Semuanya sibuk berfoto. Para bule menjadi artis dadakan di sana. Ah, kenapa tidak ada yang mau minta foto dan tanda tanganku ya? Apa bedanya aku dengan bule-bule itu? Kami sama-sama memiliki bulu hidung, kan? Oke, ini absurd! Yang anehnya lagi, dan tentu berhasil membuat mulutku terbuka lebar serta berliur deras, ternyata pendekar zaman sekarang eksis-nya laur biasa. Bukan membawa tongkat, golok, pisau, tapi malah ada salah satu cowok menenteng tongsis ke mana pun. Astaga. Ini menggelikan buahaha. Untunglah di Kolat-ku cowoknya masih terbilang macho. Terbukti, Mas Rizal selalu memamerkan pisau kecil yang bahkan cara memegangnya pun membuat pusing kepala wkwkw. Kami pun mengabadikan moment-moment ini lewat jepretan kamera Ammah. 
 
Ini salah satu fotoku bersama mereka. Ayooo tebak aku yang mana? Buahaha. Di dalam foto ini, aku bersama salah satu dari dua wanita cantik yang ikut tradisi. Namanya Ammah, duh bahasanya ngapak habis. Lucu sih. Geli juga dengar logatnya. Tapi dia baik kok. Selanjutnya, foto bersama wanita cantik kedua. Bisa kalian tebak kan siapa yang berpose paling feminim dengan kaki disilangkan? Dia sering dipanggil Mas Cantik. Nah, satunya lagi bernama Bayu. Cowok yang sebelumnya kubilang memiliki postur tinggi. Hah, laki-laki satu ini memiliki ekspresi yang aneh. Matanya suka melotot tak jelas haha. 



            Ada juga foto romantis Zikri dan Ammah yang awalnya saling benci, kini setelah tradisi akhirnya mengalami gejolak menggairahkan di hati mereka buahaha. 


            Nah, kalo yang ini namanya Alex dan Reineldi. Tapi, entahlah apa hubungan mereka seperti Zikri dan Amah, atau justru sebaliknya. Yang jelas, mereka menyimpan sesuatu buahahaha. 

 “Semuanya silahkan membentuk barisan sesuai tingkatan masing-masing.”

Ibarat tersambar petir dan tersengat listrik Pikachu, kami pun menghentikan aksi foto-foto dan langsung mengikuti instruksi. Ini yang paling menyedihkan, aku satu-satunya dari mereka yang terpisah barisannya. Ahhh, harus cari teman baru lagi nih biar tidak kesepian. Degan langkah gontai tak bersemangat sekali aku memasuki barisan para pendekar bersabuk putih. Bukan apa-apa, baru saja bertemu genk bikers, tapi sudah terpisahkan ruang dan waktu lagi hiks. 

“Woii Dog.... sini!!!”

Hm, nampaknya telingaku mendengar bisikan-bisikan ghaib? Haaaa??? Jangan bilang kalau setan yang menjadi pembisik dan menyuruhku membegal anggota di sini??? Tidak-tidak! Jangan lebay Glas. Lagian mana ada setan yang mau bisik-bisik sama lu! Wkwk..

“Oiiiii Glas, sini gua di depan.”

Oke, baiklah, kali ini aku benar-benar yakin kalau ada yang memanggilku. Soalnya dari seribu orang di lapangan ini sepertinya hanya aku yang memiliki panggilan aneh. Dog! Bahkan sering kali dipanggil anjing -_- kan rese banget. 

Kuangkat leher putih mulus menggairahkan milikku, dan... benar saja. Ada pemuda yang posturnya hampir sama denganku melambai-lambaikan tangan. Giginya ia paparkan dengan senyuman 1000 watt. 

“Bayu? Bayu!!!” tanya dan teriakku tak percaya. Tapi jangan harap ada adegan peluk memeluk ya di sini, karena yang ada justru kami saling mengepalkan tangan membentuk tinju.

“Weeeeiittsss ketemu lagi kita,” ucap Bayu.

“Iya nih gokil. Apa kabar lu? Gila ya lama banget kita gak ketemu, udah hampir tiga tahun man. Tambah item aja lu!” ucapku yang mulai ngomong ngelantur wkwkw. 

“Iyaa deh iyaaa gua iteman dari lu, tapi gak jomblo kayak lu juga buahaha.”

Sialan, kan? Apa sih masalah kalian sama orang jomblo? *Baper wkwkw.

Kala pertemuan kedua dengan Bayu, tak banyak yang kami perbincangkan karena panitia selalu memberi komando berbaris. Nampaknya, panita berjenis kelamin yang kalau tidak salah analisis adalah perempuan ini, harus belajar tata cara berbaris dulu! Soalnya aba-aba dari dia selalu muter dan tak jelas, hah!

Barisan kini sedikit berwarna. Tak hanya para manusia berseragam putih dengan sabuk merah dan putihnya, namun ada juga para tetua, sepuh, memakai pakaian yang sepertinya khas jawa. Ada yang warna ungu, hijau, dan merah. Pun dihiasi sepatu serta kupluk tradisional. Kami menyebut seragam ini dengan nama Sorjan. Mereka terlihat seperti para petinggi kerajaan Jogja. 

Para peserta upacara membentuk barisan U. Upacara pun dimulai dengan diawali bunyi-bunyian khas Jawa. Dari sudut lapangan, ada pasukan yang berarakan datang ke tengah lapangan. Barisan paling depan diisi pria tua yang tugasnya menari. Melenggak-lenggokan badan sangat gemulai. Jujur, aku menahan tawa serta merinding. Tawa karena baru kali pertama ini aku melihat kakek-kakek begitu gemulai dengan selendang di pinggulnya. Juga sekaligus merinding dengan dendang yang ia nyanyikan. Ada yang berbeda. Seakan unsur-unsur ghaib ikut di dalamnya. Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja. Maklum, laki-laki yang sudah lama tak tersirami hatinya dengan cinta ini, memiliki hati yang suci dan bersih seperti popok bayi.

Pasukan bersenandung ini tidak hanya memiliki sang kakek sebagai pioner, tapi juga ada antek-anteknya yang menemani di sisi kiri dan kanan, berjumlah lebih dari lima orang. Dua orang bertugas memayungi sang kakek, dan lainnya bertugas mengiringi nyanyian. Mereka menetap di tengah lapangan, melakukan senandung makin kencang. Berpuisi dan beraksara Jawa yang sedikit pun tak kupahami. Selesai dengan itu, mereka kembali ke luar lapangan. 

“Eh, Bay. Kakeknya lucu ya. Cantik,” gurauku ke Bayu. 

“Iya, cewek gua aja kalah cantik.”

“Yakin lu Bay? Yaudah mau gua bantu buat dapetin tuh Kakek-kakek gak?” tanyaku menahan tawa. 

“Lu atur dah. Ntar kalo udah dapet, kita bagi dua aja Kakeknya hahahaha.”

“Najis lu Bay! Buahahaha”

Puas bergurau dengan Bayu, walaupun ada saja yang sirik menatap kami dengan tatapan seakan menyuruh diam bahkan mengusir. Panita kembali mengambil komando, kami dipersilahkan maju berbaris menuju tengah lapangan yang sudah disiapkan tiga gentong berisi air dan taburan macam-macam bunga. Antrian sangat panjang. Dari seribu orang, hanya ada tiga jalur yang dibuka buat membasuh muka dengan air sakral itu. Awak pers semakin heboh menjeprat-jepret ritual, membuat cahaya berkelip di sekitar para peserta. Ada wartawan yang berlarian, fokus di satu titik, dan tersebar mencari spot indah. Bahkan, tak tanggung-tanggung pesawat kecil yang sudah terpasang kamera pun menyorot kami dari atas. Kegiatan ini akan tersebar ke seluruh pelosok Jogja, Indonesia, Bahkan Dunia. Bukan berlebihan, jelas adanya akan tersebar karena pesertanya saja berskala dunia. 

Tibalah giliranku. Gentong pertama yang berukur kecil menyambut, aku membasuh tangan menggunakannya. Lalu beralih ke gentong ke dua dengan ukuran sedang. Di gentong ini, kubasuh muka dan tak membiarkan sejengkal pun terlewatkan. Gentong ketiga pun sama guna. Dengan ukuran yang paling besar, aku membasuh dahi lalu ke pucuk kepala hingga berakhir di tengkuk. Begitupun juga dengan peserta lain. Semuanya sama. Sudah ada yang mengatur. Ya, prosesi lainnya tidak terlalu menyita pikiranku. Hanya formalitas dari sebuah upacara pembukaan. Selesai sudah semua rangkaian, kami pun dipersilahkan kembali ke penginapan masing-masing untuk shalat maghrib yang kini sudah mengumandang. 

“Sampai ketemu ntar malam, Bro,” ucap Bayu.

“Sipp Bay.”

Ngantuk. Cuma kata itu yang terus terngiang dalam benakku. Hari ini harus cukup puas dengan hanya tidur tiga jam dan berkegiatan full sampai nanti pagi, saat menyambut matahri terbit. Memasuki ruang tamu penginapan, suara tawa dan gunjang-gunjing menyambutku. Ah, teman-teman seperguruanku sedang asyik menonton sesuatu di hape Bayu. Tak perlu dengan kecerdasaan yang luar biasa, aku sudah bisa menebak apa yang mereka lihat. Yap. Bayu perguruanku dengan isengnya merekam proses perjalanan tanpa alas tadi siang. Di dalam video tersebut, aku berlaga serperti orang gila, orang kehilanngan arah. Orang seksi yang terjebak di Parangkusumo. Orang tampan yang beralaskan botol karena menahan panas aspal. Entah dari segi mana mereka tertawa, yang jelas aku suka keadaanya jadi ramai. 

Jam 7 malam kami berkumpul lagi di lapangan utama, kali ini panitia langsung mengajak peserta ke lapangan yang lebih kecil, tepat di samping lapangan utama. Kesan pertama di benakku jelas terkesima melihat proses penyambutan peserta. Dengan gerbang dari jerami yang ditumpuk, lapangan ini terkesan tradisional dan unik. Pun juga berjajar para pengawal di kiri dan kanan pintu gerbang.


*Ini kondisi lapangan pagi harinya.

Kami disuguhkan penampilan tari sepasang wanita dan pria dengan wajah dipenuhi bedak. Mirip badut. Setelahnya, wayang golek dengan alur cerita latihan pencak silat pun dipertontonkan. Walaupun menggunakan bahasa Jawa, aku cukup mengerti. Ohh iya, aku dan Bayu kebetulan kali ini tidak bertemu. Jadi mau tak mau kembali harus mencari teman ngobrol. Bertemulah sama perempuan dewasa bernama Nia. Ibu-ibu bersuami ini memiliki wajah khas orang Jawa. Hitam manis. 

 Banyak yang kami lakukan di sini, di lapangan perwayangan ini. Selain menonton wayang yang tentunya sangat membuat terpingkal, kami pun melakukan obrolan seru, haru, dan gembira bersama para pewaris Merpatih Putih dan juga guru besar perguruan. Mereka menceritakan awal mula Merpatih Putih. Menceritakan sosok Alm. Mas Poeng, dan semuanya. Termasuk juga video singkat tentang Mas Poeng dan Merpatih Putih. Video ini benar-benar membuatku terharu, sedih, dan bertambah semangat berkali lipat. Serasa mengenal sosok Mas Poeng sebagai pendiri perguruan. Bagaimana dia yang hidup di hutan tanpa cahaya setitik pun, hingga ia pun berlatih gerakan-gerakan yang terilahami dari alam untuk bertahan hidup di hutan. Baik dari serangan makhluk ghaib maupun binatang buas. 

Jika pertemuan adalah hal yang paling mengerikan bagiku, sedangkan kenangan merupakan sesuatu yang kubenci, maka bisa disimpulkan aku ngeri dan membenci manusia. Sebab, pertemuan dan kenangan adalah hal utama yang mengisi kehidupan manusia. Yah tentu selain air, makanan, sexs, dan tidur. Manusia suka sekali membuat onar, contohnya seperti sekarang, saat masih dalam keadaan damai mendengarkan cerita para tetuah, tiba-tiba satu peserta berteriak kencang. Tidak setuju dengan acara yang digelar panitia, ia pun menyerang pembawa acara. Entah apa yang dirubutkan, mereka terlihat akan beradu hantam. Namun keduanya berhasil dilerai. 

“Parah yah Mba tuh peserta kok bias-bisanya cari masalah gitu?”

“Iya ih, ngeri banget lagi matanya melotot gitu,”

“Atau mungkin dia kurang waras yaa Mba?”

“Hust, ngawur kamu. Lhaa masa iya orang gila bisa jadi peserta tradisi ini hahaa,” ucap Bu Nia. 

“Iya Juga sih, Tapi—

Belum sempat aku melanjutkan ucapan, tiba-tiba orang onar itu kembali berulah. Iya berteriak kencang. 

“Jangan macam-macam, ya!” (dalam bahasa Jawa) 

Kini ia tidak sendirian, melainkan membawa anak kecil yang sepertinya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Astagaaaa??? Kenapa dia bawa-bawa anak kecil coba?? Apa salah tuh anak? Orang yang ditantang pun akhirnya mengikuti tawaran perang dari si bapak pembuat onar. Kini terjadi adu hantam pertarungan antara kubu si bapak onar yang diwakilkan anak kecil, dan kubu si bapak pembawa acara yang pun diwakilkan anak kecil. Duh, adek, kasihan sekali kalian. 

Para peserta yang mengelilingi panggung wayang sedikit menjauh dari area perkelahian. Kedua anak kecil ini saling adu silat. Saling tendang. Tinju. Hantam. Banting. Jerat leher. Pegang ketiak. Mengunci lawan. Keduanya terlihat sama hebat. Tapi, salah satu dari mereka pun kalah akibat tidak fokus karena melihat senyumku (Oke, yang ini bohong)

Usut punya usut, adegan ini ternyata sudah rekasaya panitia. Bertujuan untuk memberitahu gerakan silat pada kami. Haaaaaa, aku makin menciut. Ngeri juga yaa berantem sama anak kecil itu buahahaa. Kecil-kecil pegangannya udah golok. Pisau. 

Nah, habis dari drama menegangkan barusan, kami para peserta digiring kembali ke lapangan utama. Dibariskan rapi sekali untuk selanjutnya melakukan napak tilas ke Makam salah satu pendiri perguruan, kalau tidak salah namanya adalah Syekh… emmm, syekh apa yaa? Maaf ingatanku terbatas buahahaha. Yang jelas bukan Syekh Puji lhoo. Selama perjalan, aku kembali bertemu dengan Bayu. Kami menapaki ratusan anak tangga yang membentang dari kaki bukit hingga ke pucuknya. Tiba di makam, kami berdoa khidmat. Mengambil napas sedalam-dalamnya. Sekarang sudah tengah malam, dan yang anehnya peziarah kuburan ini masih sangat ramai. Bahkan mereka menggelar tikar dan mengeluarkan beberapa cemilan. Mirip sekali seperti kumpulan orang yang sedang camping. 

Ada satu cerita yang menggetarkan jiwa, raga, sanubari, dan seluruh molekul di tubuhku. Ada empat peserta yang kesemuanya Tunanetra (*Maaf, tidak dapat melihat), dan dengan hebatnya, mereka bisa berjalan menaiki, menapaki ratusan tangga tanpa bantuan seorang pun. Bahkan, mereka juga tahu di barisan mereka ada berapa orang. Mereka paham jika mereka sedang tidak di dalam barisan. Ah, sungguh, aku benar-benar tak paham dengan insting yang mereka miliki. Tapi, konon katanya mereka ini sudah menguasi yang namanya ilmu kebatinan. Arti dari ilmu kebatinan pun jangan kalian salah pahamkan dan samakan dengan ilmu ghaib atau ilmu aneh lainnya. Kebatinan di sini lebih kepada tingkat perasaan dan kepekaan mereka terhadap lingkungan yang jauh lebih tinggi dari manusia normal. 

Acara ziarah sudah usai. Kini kami berada kembali di lapangan utama. Duduk manis merapatkan kedua kaki. 

“Capek lu Bay?” tanyaku melihat Bayu yang tiduran di atas rumput dengan mata terkatup.

“Gak juga sih bray. Cuma lagi nikmati suasana aja,” ucapnya sok puitis.

“Halah, lebay lu. Palingan lu capek kan? Cemen lu Bay. Gitu aja capek,” dan seterusnya, aku terus saja mencerocosi, mengomeli, meremehkan Bayu yang terlihat kelelahan. Sebelum akhirnya ucapan Bayu menghentikan aksiku. 

“Anjir lu Glas!!! Sok-sok’an ngatain gua capek gegera gua tiduran doang, noohh lu malah ikutan tidur. Tai emang hahahhaa.”

“Husssstt…. Gua lagi nikmatin suasana Bay,” ucapku. 

Belum sempat Bayu menimpali, suara panitia kembali menggonggong.

“Ya, semuanya kembali berdiri.”

Mereka menyuruh berdiri, kami pun laksana kera sakti yang patuh terhadap Tom san Cong, langsung saja berdiri tegak. Mengikuti perintah. 

“Sikap sempurna, akk!”

Aba-aba selanjutnya adalah sikap sempurna. 

“Yak, duduk sempurna.”

Nah, kali ini kami duduk sempurna. Yang dimaksud adalah duduk bersila dengan kaki kanan di atas paha kaki kiri (bersila). Runtutuan acara lainnya pun berlangsung, dari pukul enam pagi hingga sekarang yang hampir jam satu dini hari, kami tidak diberikan jeda yang banyak untuk beristirahat. Sama seperti sekarang. Setelah duduk sempurna, mata kami disuruh terpejam. Mulut merapal, berdoa, bergumam tentang mimpi, harapan, cita-cita, cinta, dan apapun itu yang kemudian di salurkan ke tiga buah guci besar di hadapan kami. Inti dari kegiatan ini adalah mentransfer energy positif ke air di dalam guci. Dan nanti pas fajar datang airnya kami minum bersama-sama. Kenapa perantaranya adalah air? Menurut panitia air adalah sesuatu yang paling gampang dipengaruhi.

Kami beranjak dari lapangan menuju Pantai Parangkusumo untuk melakukan meditasi bersama-sama. Di sana, kami hanya duduk sempurna dengan mata terpejam. Berkosentrasi membuang pikiran negative. Mengambil energy alam untuk me-refresh diri. Setelah jam sudah bergelantung di angka dua pagi, kami pun kembali ke penginapan. Oke, saatnya istirahat untuk selanjutnya melaksanakan kegiatan terakhir, yaitu penyambutan sang fajar terbit dan proses meminum air guci. Tapi sayang, prosesi terakhir ini tidak kuikuti karena ketiduran, buahahaha. Tapi tenang, aku ada beberapa foto yang menampilkan betapa ciamiknya kegiatan tersebut.
 *Meditasi sambil menunggu datangnnya fajar.

 *Entah, anak ini sedang berlatih jurus atau justru lagi ngeden buahaha.


 *Mungkin mereka belum sadar kalau ketek-nya pada bau buahaha. Ini gerakan pengambilan napas.


 *Kalau yang ini adalah prosesi minum air dari gentong yang semalam penuh dengan doa dan harapan. 

 Acara pun selesai. Setelah berkemas, kami pulang menuju Semarang tepat pukul sebelas siang. Di perjalanan, kusempatkan izin pulang kepada sahabat baruku selama tradisi. Yap. Bayu sempat meminta id line-ku untuk meminta beberapa foto pas proses jalan tanpa alas kaki. Dan selama perjalan pulang tak ingin kuceritakan, karena hanya Mas Rizal, Zikri, Pak Suroto, dan Pak Choji yang mengerti betapa hebatnya aku memindahkan kelima sapi untuk menyebrang sungai.

-END-