Saturday, March 28, 2015

ONOMATOPE PULAU KEMARO

BY Ricky Douglas No comments






Created by : Ricky Douglas

Pulau Kemaro, tahun 2015
            Sudah beberapa tahun ini aku melihatnya diam. Seperti tak bernyawa. Ia menghadap dan memburaikan tatapan ke arah riak Sungai Musi. Biasanya, aku mengintip perempuan itu dari teras rumah, tak terkecuali hari ini. Kala senja hampir punah, sang perempuan renta mulai menempatkan tubuh ringkih pada sebilah kayu untuk dijadikan tempat duduk, namun bagiku justru terlihat seperti kuburan yang siap membenamkannya. Jujur, aku bosan melihat dirinya terus nestapa akan kekalahan terhadap takdir.

Dia seperti tak memiliki ruh. Mungkin saja sudah terbang terbawa angin sepoi Musi. Bergeming dalam sunyi malam tanpa ingat atap langit telah menggelap. Pun, hujan tanpa belas kasihan tak jua berhenti menampar sisi wajahnya yang semakin hari kian tirus. Mengurus. Ya, perempuan itu adalah istriku.

Aku berjalan mendekatinya dengan payung usang di genggaman. Tak mungkin tega melihat airmatanya selalu tersamar di balik guyuran hujan. Jalan setapak tergenangi air hingga membuat kaki keriputku basah. Ia kini tepat di sampingku. Kuteduhkan diri dan jiwanya, lalu menyisir lembut rambut putih panjangnya yang basah menggunakan sela-sela jari. Kemudian, aku mulai menyenandungkan sebuah lagu. 

Dikalaku merindukan keluhuran dulu kala. Kutembangkan nyanyi dari lagu Gending Sriwijaya. Dalam seni kunikmati lagi jaman bahagia. Kuciptakan kembali dari kandungan Maha Kala. Sriwijaya dengan Asrama Agung Sang Maha Guru

Aku berhenti bersenandung karena hati ini  mengembun ketika tatapannya langsung menumbuk kornea mataku, terasa panas. Nanar. Bagaimana tidak, jika hanya dengan sebait lagu itu saja, dia seperti kembali pada masa lalunya yang tak sesempurna cerita Cinderella. Mungkin, ia menganggapku bodoh karena tidak bisa membedakan antara mitos dan kata asmara yang terlalu tipis sekatnya.
 
Gending Sriwijaya. Ya, sebuah syair yang entah bagaimana telah mengikat kami berdua dalam takdir. Sebuah produk reinkarnasi jiwa untuk berpasang-pasangan, namun dalam garis ambigu. Aliran cerita itu terlampau deras untuk diterjang. Layaknya arus Musi yang sedang kami ratapi ini. Begitu menghanyutkan. Ah, aku tertawa kecut dan tanpa sadar air mataku sangat lancang terjun di suasana syahdu seperti ini.

Kerajaan Palembang, tahun 1710 Masehi
Arus Sungai Musi selalu mampu menenggelamkan tatapan siapa pun yang melihatnya. Bola mataku bergerak cepat, berpindah dari pola abstrak arus sungai lalu menuju tumpukan padat rumah-rumah penduduk di atasnya. Biasanya, mereka tengah sibuk berdagang rempah dari rumah sampan masing-masing, atau sekadar bercengkrama satu sama lain. Namun, kali ini mereka lebih memilih berteduh dari guyuran hujan. Membuat suasana Sungai Musi terlihat sepi. Mencekam. Seperti jiwaku.  

 “Maaf, Putri Raja. Hari sudah gelap, dari tadi pun hujan turun tanpa ada tanda-tanda akan berhenti. Apa sebaiknya... kita pulang ke kerajaan saja?” saran salah satu Dayang padaku.

Ia tertunduk, kedua tangan mengepal dan saling meremas di depan perut rata miliknya, hingga membuat kerutan kecil di kain putih dengan pernik emas di beberapa bagian yang membalut sekujur tubuh. Lalu, mataku beralih, memandang rimbun pohon di sekeliling Sungai Musi. Aku melenguh, mengeluarkan napas kasar. Ada semacam sembilu mengiris tipis-tipis hati, ketika jarum-jarum halus turun dari langit menusuk sadis dan melarung bersama Musi. 

“Berhentilah memanggil dengan sebutan seperti itu, Dayang. Panggil saja Siti Fatimah.” Tanganku merangkul bahu dan merapatkan tubuh muda perempuan itu untuk ikut berteduh di bawah payung lebar, berwarna ke-emasan dengan beberapa pernak-pernik warna sepadan yang bergantungan di setiap sisi bundarnya. 

 “I-i-ya, Putri Raja. Eh, Putri Fatimah” jawabnya kaku, sambil membetulkan perlahan posisi payung buatku. Walaupun, peneduh yang terbuat dari olahan getah pohon itu tak sepenuhnya berhasil menghindarkanku dari basah. Terbukti, songket[1] yang menutupi tubuhku bagian pinggang ke bawah tetap saja tersirami hujan. 

 “Wahai para pengawal. Tubuh bagian atas kalian tidak tertutupi helaian apa pun, apakah tidak dingin saat hujan menerpa? Pulanglah ke kerajaan. Biarkan aku dan Dayang Rindu menikmati hujan dari pinggir sungai ini,” titahku pada ke-empat pengawal, mereka berdiri di belakang sedari tadi.

 “Maaf, Baginda sudah memerintahkan kami untuk mengawal Putri,” kata Angsoko sambil menunduk. Aku tersenyum menanggapinya. Ia salah satu pengawal dengan perawakan gagah yang entah kenapa membuatku sedikit risau saat berdekatan dengannya. 

Lengan kiriku menengadah, merasakan titik air saat menyentuh kulit, “kenapa akhir-akhir ini hujan turun tidak pada musimnya?” aku menggerutu lebih pada diri sendiri. 

 “Bukankah seperti itulah fungsi hujan, Putri Raja?” papar sebuah suara memecahkan kebekuan antara aku dan hujan.  

 “Apa maksudmu, Angsoko?” aku menoleh padanya, ia kini sudah ada di sebelahku. Senyum tak pernah lepas dari wajahku yang kata pemuda-pemuda kerajaan bak berbentuk bulat telur.

“Terkadang hujan datang di waktu yang tepat untuk membawa kebahagian. Selebihnya, hujan hadir hanya untuk membekaskan kesedihan. Membuat nostalgia pahit bermuram durja di pikiran.” Pemuda berbahu lebar itu menatapku tajam. 

“Mungkin kau benar kalau hujan memiliki dua sisi. Tapi, selama ini ia selalu mampu menawarkan ketenangan padaku,” ucapanku terhenti ketika mendapati tatapan penuh kebencian darinya yang menusuk mataku. 

“Hujan membawa kesadaran pahit padaku karena telah lancang mencintai Putri Raja sepertimu. Setiap hari ada saja laki-laki meminangmu. Tanpa kau sadari, kecantikan dirimulah penyebab sengsaranya pemuda-pemuda di kerajaan ini! Termasuk aku!” Angsoko berdiri sangat dekat denganku. Mukanya memerah hebat. Aku dapat melihat kalau bolamatanya mengembun. Menyisahkan basah di pelupuk.

Tanpa menunggu perintah, Dayang Rindu beserta tiga pengawal lain menjauhkan Angsoko. Ia memberontak hebat. Tangan dan kakinya menerjang-nerjang. Sampai akhirnya, hujan yang sedari tadi ia perbincangkan menggunakan kalimat benci tersamar pun menghakiminya. Angsoko jatuh terpeleset ke dalam Sungai Musi. Betapa terkejutnya aku, sesaat sebelum ia jatuh, pemuda itu menarik selendang songket yang terkalung di bahuku hingga aku ikut tercebur ke derasnya aliran sungai.
***
“Baginda, biarkanlah saja lenganku kau potong, daging kau cabik, bahkan kepala ini kau penggal. Aku tidak takut! Biarlah tubuhku punah, binasa, atau tergerus zaman sekalipun, tapi cintaku akan berkelana dan memilih raga baru untuk terus mencintainya. Aku bersumpah akan menjadikan Siti Fatimah pendamping hidupku!” Ia terbatuk-batuk,  sulit bernapas karena temali mengikat lehernya.

“Pengawal, penggal dia!” titah Baginda Raja kepada laki-laki dengan otot dada menyembul serta sebilah kapak besar di tangan. Sejurus kemudian, darah bercucuran  di halaman gersang yang biasanya dijadikan tempat hukuman mati itu. 


 “Dayang Rindu, kau sudah memberikan kesaksian sangat jelas mengenai peristiwa kemarin. Sekarang kau boleh pergi!” suara Baginda Raja membuyarkan rasa ngeriku akan eksekusi yang barusan terjadi. 

Kamar Putri Kerajaan Palembang.
Aneh, aku mampu merasakan kalau sekarang ada yang menekan-nekan dahiku, berpindah ke bahu, lalu meraba sekujur tubuh. Ada juga bau tajam, menyengat. Tapi, semuanya tetap saja gelap. Kelopak mata terlalu berat untuk dibuka. Namun, kini pandangan yang semula buram akhirnya mulai terang akibat bau menyengat.

“Anakku, kau sudah sadar?” sosok tinggi besar ber-kepudang[2] lapis emas di kepalanya itu menyentuh pipiku. Mata cokelatnya penuh sinar kekhawatiran. “Istirahatlah dahulu. Sudah dua hari kau tidak sadarkan diri,” sambung Baginda, ia membantuku merebahkan punggung pada sandaran ranjang.

Melihatku yang sudah baikkan, Baginda perlahan pergi menuju singgah sana tempat duduk kebesarannya.  Kini, hanya ada aku dan Dayang Rindu di ruangan ini. 

 “Dayang Rindu, tolong kau siapkan saja pakaianku. Setelah ini, aku ingin bertegur sapa dengan para penduduk, lalu... mungkin akan mengunjungi Angsoko,” ucapku pahit. 

Tiba-tiba saja raut Dayang Rindu bak tersengat lebah. Bola matanya bergerak lincah kesana-kemari. “Maaf Putri Fatimah,” ia memberi jeda. Lengan kecilnya mengusap rambut konde, “Angsoko... sudah dihukum pancung,” paparnya sendu, lalu melenggang menuju lemari kayu di sudut ruangan untuk mempersiapkan pakaianku. Pernyataan Dayang Rindu nyaris membuatku pingsan. Tubuh ini melemas. 

Apa ia pantas dihukum mati hanya kerena mencintaiku? Apa benar dirikulah penyebab pemuda-pemuda di kerjaan ini menderita? Pikirku kecut. 

 “Janganlah bersedih hati, Putri Fatimah” Dayang Rindu menghapus airmataku. 

Kemudian, ia mengenakan baju dasar berwarna kuning emas padaku, satu kain songket sebagai sarung, serta satu lagi digunakan untuk selendang. Ia pun membantu menggulung rambut, dan terakhir memasangkan anting-anting panjang hingga menyentuh bahu. Perlahan, aku mulai memasukkan mahkota berwarna emas menyalak ke kepala. 

Aku dan Dayang Rindu berniat menghadap Baginda Raja. Namun, belumlah sempat jemari menyentuh gagang pintu, benda itu sudah terbuka dari luar. Seorang pengawal menghentikan langkah kami.

“Ampun Tuan Putri. Baginda sudah menunggu di pendopo kerajaan.” Sang pengawal berlutut di hadapanku. 

“Berdirilah pengawal. Aku akan menghadap Baginda Raja,” seruku. 

Dari dalam kerajaan, kami melewati lorong-lorong menuju pendopo di bagian terdepan istana. Setelah melewati beberapa jalan, sampailah pada sebuah ruangan besar dengan sepasang patung berbentuk manusia gagah, berfungsi sebagai gapura ucapan selamat datang. Di pendopo ini ada puluhan prajurit, para dayang, dan juga... pemuda asing yang tengah melihatku. Matanya seperti elang. Tajam. Mendalam. Aku tersnyum ramah.

 “Ke sinilah, Anakku.” Aku dan Dayang Rindu menghampiri Baginda yang tengah dikelilingi dayang lain. Umurnya kini hampir kepala lima, namun ia masih terlihat segar dengan dada bidang serta perut berpetak-petak enam, “bentar lagi kau nak dipinang samo Tan Bun An, dio juga lah nyanggopi persyaratan ngebawakke sembilan guci berisi emas ontok aku. Apo kau galak nerimo pinangan pangeran dari Kerajaan Chino itu, Siti Fatimah?” [3] tanya Baginda Raja.

Sorot mataku beralih memperhatikan perawakan pemuda yang tampak berbeda dengan laki-laki lain. Ia putih, tinggi, tegap. Kepalanya hampir botak, hanya memiliki satu rambut panjang sepinggang di bagian tengah dikepang seperti buntut kuda. 

 “Kalo Ayahanda sudah ngenjokke syarat dan dio lah nyanggopinyo. Aku pun galak ontok nerimo pinangan,”[4] jawabku tertunduk malu. Baru kali pertama aku merasakan getaran yang selama ini kuidamkan.

Kabar tentang pernikahanku telah menyebar ke pelosok Negeri. Semua penduduk membantu persiapan upacara adat yang satu minggu lagi akan digelar. Mereka memasang puluhan lampion berwarna merah garang, digantung dari hilir Sungai Musi lalu tersambung ke hulu. Tan Bun An pun sudah menyuruh awak kapalnya kembali ke China untuk mengambil kiriman dari ayahnya berupa sembilan guci. Siang ini, kami berjalan-jalan dan tersenyum bahagia saat melihat halaman kerajaan sudah tergelar karpet kuning emas. Beberapa lemari besar dan dua kursi yang tak kalah besar pun menjadi latar di sana.

 “Siti Fatimah. Aku bahagia karena kau mau menerima pinanganku,” suaranya beda, ia menggunakan logat khas orang China. Jemari Tan Bun An menyentuh pipiku hingga bersemu merah. Laki-laki beralis tebal itu tahu kalu aku tersipu karena perlakuannya, ia maju satu langkah ke arah pelataran sungai, lalu melanjutkan kalimatnya, “aku sudah tidak sabar menunggu kedatangan sembilan guci emas.” Kedua tangannya merentang lebar.

“Tan Bun An, selagi engkau menunggu, aku akan merajut songket untuk kita berdua kenakan nanti pada waktu pernikahan,” ujarku malu-malu. 

***
Sudah lima hari ini aku menenun kain songket di halaman belakang kerajaan. Pertemuanku dengan Tan Bun An semakin singkat, ia sibuk berdagang dan menunggu kehadiran awak kapal di dermaga. Aku duduk pada lantai kayu, di hadapanku ada sebilah papan lebar sebagai alat tenun. Dayang Rindu tak pernah beranjak sedetik pun dari sisiku, ia ikut memberi saran untuk corak songket-nya. 

Sebuah suara menghentikanku menenun songket. “Maaf, Putri Raja. Awak kapal Tuan Tan Bun An sudah tiba, ia menunggu di dermaga,” tutur salah satu pengawal. 

Kemudian, kami pun menuju dermaga. Setelah beberapa saat menyisiri sungai, aku sudah dapat melihat awak kapal tengah sibuk merapikan guci di geladak[5] utama. Tan Bun An melambaikan tangan, memberi isyarat padaku untuk segera naik ke kapal. 

Ada tujuh awak kapal serta Dayang Rindu yang menyaksikan betapa bahagianya aku dan Tan Bun An. Lelaki berdarah China itu kelihatan tak sabar, hingga akhirnya ia membuka guci pertama. Namun, setelah tutup guci terbuka, rona kebahagian justru lenyap dari wajah putih Bun An. Umpatan singkat mampu kutangkap dari bibirnya. Aku mengintip isi guci. Hati ini mencelos saat melihat guci hanya berisikan sayuran kubis yang sudah hampir busuk. 

“Ah, mungkin Ayahku tak sengaja memasukkan guci berisi sayuran busuk ini. Aku yakin guci lainnya pasti berisi emas,” ia menenangkanku, senyumnya terlihat dipaksakan. 

Dengan semangat yang masih atau sedikit memudar dari sebelumnya, Tan Bun An kembali membuka guci kedua, lalu ketiga. Namun, kekecewaan kembali harus kami telan karena lagi-lagi guci itu hanya berisi sayuran busuk. Kali ini, umpatan dari mulut calon suamiku sangat jelas terdengar. Lelaki berpakain serba merah seperti daster itu memaki orang tuanya, ia membuang guci-guci yang belum sempat dibuka ke dalam sungai.

“Aw,” pekik Tan Bun An. Kakinya tersandung saat ingin melempar guci terakhir yang masih tersisa di kapal, hingga guci pun pecah. Berserakan. 

Aku yakin bukan hanya bola mataku saja yang saat ini mendelik, semua orang di kapal ini pun bersikap sama saat melihat pecahan guci memantulkan sinar menyilaukan. Kepingan emas berserakan di geladak kapal. Sekarang barulah jelas kalau orang tua Tan Bun An sengaja memasukkan sayur untuk menghindari penjahat di lautan. Lelaki itu terduduk lemas. Ia menggenggam kepingan emas dengan pandangan mata menyedihkan. 

“Bun An,” tegurku tak kalah sedih, lantas ikut duduk di sampingnya.

Ia sontak berdiri. Matanya menyalak hebat. Selanjutnya, kejadian yang tak pernah kuduga pun terjadi. Tan Bun An berlari kencang ke arah bibir kapal. 

“Aku harus mengambil guci-guci yang telah kubuang ke Sungai Musi ini,” ujarnya. Kemudian langsung melompat ke arus deras dan diikuti beberapa awak kapal.

Tangis sudah pecah dari pupil mataku. Langit ikut mengejek dengan guyuran air. Hadir hujan kali ini sama sekali tak membuat hati tenang, ia justru menghadirkan durja kesedihan. Rimba Tan Bun tak kunjung hadir. Dayang Rindu dan beberapa awak kapal yang tersisa mencoba menenangkanku dari sesenggukan.

“Dayang Rindu, aku akan mencari Tan Bun An. Jika ada seonggok tanah muncul di tengah-tengah permukaan Sungai Musi ini, maka berarti itu adalah makamku,” tuturku, kemudian melompat ke dalam sungai.

Aku hanya menyadari tubuhku kian pucat dan terus tenggelam ke dasar Sungai Musi. Setelah beberapa saat, mataku mendelik sempurna ketika mendapati tubuh Dayang Rindu tepat berada di atasku. Ia berusaha meraih tanganku, mulutnya dipenuhi gelembung. Tetapi, perlahan semuanya menjadi gelap. Senyap. Lenyap.

Pulau Kemaro, tahun 2015.
 “Apa kau tidak bosan setiap sore hingga malam selalu duduk di pinggir sungai?” Rongga dadaku menghirup aroma pulau yang berada di tengah-tengah Sungai Musi ini.

Tanpa sepatah kata, perempuan itu pergi meninggalkanku dengan payung kumuh masih di genggaman. Aku berdiri kaku di pulau yang menurut legenda adalah sebuah kuburan bagi perempuan bodoh karena menceburkan diri demi lelaki pujaannya. 

“Apakah besok kau masih akan kembali merenung di tempat ini, Putri Fatimah?” Pandanganku lurus; menghadap aliran sungai dan juga jembatan Ampera. Langkahnya terhenti, aku tahu karena tak ada lagi bunyi genangan air saat diinjak. 

“Aku akan terus berada di pinggir sungai ini, Angsoko,” ujarnya memakai nada khas. Lembut. Renyah di telinga. 

“Kenapa?” aku berbalik, menghadap istriku
.
“Jika aku dan kau saja bisa bertemu setelah beratus-ratus tahun kemudian, mungkin... Tan Bun An pun bisa! Aku yakin cintanya akan berkelana untuk menemukan raga baru hingga meneruskan rasa padaku.” Siti Fatimah kembali melangkah pergi.

Pahit sekali, hujan ini selalu menghantarkan kepedihan padaku selama beratus-ratus tahun lamanya.Ternyata, cintaku tak akan berkembang seperti Sungai Musi yang memiliki anak sungai lainnya. Percuma memaksakan sesuatu yang aku sendiri pun sudah tahu kalau akhirnya akan menjadi luka menjijikkan. Terkurung akan angan dan cinta yang jaraknya hanya sebatas benang tipis namun sangat runyam. Ia ibarat suara ilusi yang selalu kutanam dalam hati. Mencoba meyakinkan diri kalau cerita itu hanyalah mimpi!




[1]  Songket merupakan sebuah kain tenun yang dibuat dengan menggunakan benang pakan. Untuk hiasannya sendiri dibuat dengan menyisipkan seperti benang perak, emas atau benang warna diatas benang lungsi. Merupakan kain tradisonal Palembang dan Minangkabau di Indonesia. 

[2] Kepudang merupakan semacam penutup kepala khas kerajaan Palembang yang berbentuk segitiga di bagian depan. Biasanya bercorak keemasan. 

[3]  “sebentar lagi kau akan dipinang oleh Tan Bun An, ia pun sudah menyanggupi persyaratan untuk membawakan sembilan guci berisi emas padaku. Apakah kau setuju menerima pinangan pangeran dari Kerajaan China itu, Siti Fatimah?”

[4] “Kalau Ayahanda sudah memberikan syarat dan ia telah menyanggupinya. Aku pun setuju untuk menerima pinangan,”

[5] Geladak dalam bahasa Inggrisnya deck adalah lantai kapal.

BIODATA
Ricky Douglas, seorang penulis muda kelahiran 14 Juli 1994 ini tinggal di Kabupaten Ogan Ilir, Palembang, Sumatera Selatan, dan sekarang sedang menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro Semarang. Profil lebih lengkap dari seorang penggila dunia sastra ini dapat kalian lihat di Facebook: Ricky Douglas,  Twitter: @RickyDouglasz, atau email : ricky_douglas@rocketmail.com Terimakasih.

Thursday, February 5, 2015

Kampus Fiksi Emas-ku

BY Ricky Douglas 3 comments




Dua Puluh Sembilan Hari Sebelum Februari. 

Sepertinya... aku menulis karena orang lain menulis. Berkarya karena orang lain berkarya. Takut kalah? Mungkin! Iri hati? Ah, tidak juga! Aku melakukannya karena dunia literasi ibarat cahaya matahari yang sangat terang bagiku. Sulit sekali buat menatap dengan tajam, tapi aku sungkan buat terpejam karena gelap tidaklah menyenangkan.  

            “Ah, ngapain lo nulis? Kayak orang kagak ada kerjaan aja?!” tegur suara mantab sahabatku yang justru terdengar seperti bentakan preman pasar johar. 

            “Emm... nulis itu kayak orang enggak ada kerjaan, ya?” pertanyaanku itu hanya mampu tertahan di ulu dada, dan lama-kelamaan meradang membuat perut melilit. Muak!

            Ada satu pikiran miris dan juga cukup picik jika didengar para (penulis) lain. Yah, aku beranggapan kalau penulis itu adalah orang-orang yang kesepian! Hidupnya hanya bertutur pada lembaran cerita karangan. Walaupun rute hidup tidak cuma kampus-kosan dan sebaliknya, tapi akhirnya ia tetap mendekam dalam satu dunia seolah-olah yang berhasil ditipu daya oleh dirinya sendiri. Setidaknya... itu menurutku. Atau, lebih tepatnya itu aku! Hidupku tentunya tidak membosankan! Banyak teman buat berbagi, banyak tempat buat membuang sampah dalam pikiran. Namun, lagi-lagi aku terlihat miris karena hanya coretan dari jemari ini lah yang mampu memuaskan semua hasrat manusiawiku. Yap. Hasrat ingin berkeluh kesah!
***

Lima Hari di Bulan Februari.
            Bodoh. Aku lupa kalau kacamata bisa membantuku melihat sinar matahari secara gamblang. Lagi-lagi, walaupun sinarnya sedikit redup karena retina mataku terhalang lensa yang menjadi penyekat antara aku dan matahari. 

“Lo nulis lagi? Kayak orang kagak ada kerjaan aja sih lo?!” tegur sahabatku yang kali ini jauh lebih beringas dari pada ombak di bibir pantai. 

“Dengan menulis, aku bisa bertahan sekaligus menyerang dalam waktu yang bersamaan,” jawabku mantab dengan rasa bangga yang luar biasa berlebihan. 

“Maksud lo?” tanyanya bingung. Ia merapatkan bangku ke sisi mejaku. Tidak peduli dengan keberadaan dosen yang sedang berorasi tak jelas di depan kelas. 

“Tebak, senjata apa yang paling mematikan?” tanyaku dengan nada yang... emm, sedikit memuakkan. Mirip para motivator dadakan. 

Sahabatku itu menjentikkan jari di kening, “Apa, ya?” gumamnya pada diri sendiri. “Kayaknya Pistol deh, atau bom?!” sergahnya percaya diri, seperti memecahkan kasus yang tidak bisa ditangani Sherlock Holmes. 

“Salah! Senjata yang paling mematikan itu adalah tulisan. Ia menyerang pikiran, idealisme seseorang. Mungkin kamu juga sebentar lagi akan kuserang pemikirannya lewat cerita baruku, haha” jelasku panjang lebar. 

Bibirnya menekuk, “Cerita apa?” ia mengedarkan pandang ke arah jendela yang menghantarkan panas siang hari, lalu mendekatkan telinga ke bibirku. Kepalanya sedikit tertunduk.

“Aku ngasih judulnya Kampus Fiksi Emas. Ini kisah nyata! Walaupun sebenarnya enggak ada kata-kata emasnya sih. Tapi, semoga saja aku enggak salah menyematkan kata emas di sana.”  


***

Tujuh Hari Terakhir di Bulan Januari

Bulan Januari menghentakkanku dari zona yang selalu menina bobokan manusia aneh, sepertiku! Ah, ini yang disebut-sebut mereka dengan rasa letih dan bosan di waktu yang bersamaan. Rute hidupku tiba-tiba mengalami fluktuasi yang cukup tinggi. Dari seorang (Mahasiswa), kini di(paksa) bekerja seharian. Pergi jam delapan pagi lalu pulang saat jarum jam mendekati angka sepuluh malam. Kerjaanku? Marketing di salah satu Bank. 

Maaf, aku tidak akan bercita... atau mungkin memang tidak bisa bercerita tentang bagaimana jerihnya menunggu bertahun-tahun seperti para teman alumni Kampus Fiksi11 yang lainnya. Ada satu rahasia yang tidak akan kubagi dengan kalian yang mengaku (pembaca), dan akan banyak rahasia yang mampu kuobral untuk kalian yang mengaku (sahabat).  

Singkatnya, handphone-ku berdering saat jam kerja, dan setelah itu... hanya wajah girang serta lompatan kecil yang mengiasi ruang kerja. 

Aku akan menjadi keluarga besar Kampus Fiksi, batinku. 

Untuk kalian yang belum tahu Kampus Fiksi (Walaupun mustahil banget sih buat para penulis pemula enggak tahu apa itu Kampus Fiksi). Kampus Fiksi atau KF adalah acara yang digelar oleh penerbit DivaPress. Ada Kampus Fiksi Reguler, Emas, RoadShow, dan Spesial. (Paragraf ini sengaja dibikin kayak laporan berita, buahaha).



***
Dua Hari Terakhir di Bulan Januari 

Perjalanan dari Semarang-Yogyakarta hanya membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam. Tergantung si pengemudi membawa kendarannya dengan laju siput atau kelinci. Dan, aku memilih menjadi siput. Empat jam di perjalanan full diserang mahluk yang bernama hujan. Alhasil badan basah semua (Ceritanya naik motor).  Aku tersenyum masygul, pasti nanti para peserta Kampus Fiksi itu orang-orangnya sudah tua semua. Ada yang berjenggot, perut buncit, kacamata tebal, perempuan tomboy, laki-laki yang meng-imutkan dirinya sendiri, atau mungkin sudah ada yang ubanan? Bisa jadi, kan?! 

Menurut kabar burung yang beredar (entahlah burung siapa yang mau beredar di malam selarut ini), Kampus Fiksi juga bisa dijadikan ajang buat mereka yang ingin menaikkan status dari jomblo menuju manusia yang di PHP-in, lalu berlabuh ke pacaran, dan akhirnya jungkir balik di sudut ruangan karena putus cinta. 

Karena hujan makin deras, aku memilih berteduh di warung makan nasi padang yang herannya selalu ada di manapun dan kapanpun. Puas makan dua piring nasi rendang, roda motorku melaju ke arah Jogja dan melipir ke Jl.Wonosari.

“Halo, Mas Imam. Mau laporan nih. Aku udah ada di depan Alf*mart Jl.Wonosari,” tuturku pada orang yang belum pernah kutemui di seberang telepon itu.  

“Oke, Mas Ricky. Saya menuju ke sana. Tunggu, ya!” ia mematikan telepon.

Mas Imam, menurut penuturannya sendiri, ia adalah wakil dari Kampus Fiksi untuk menjemput para peserta yang tidak tahu jalan menuju rumah baru mereka. Berhubung aku adalah orang yang sangat tertarik dengan dunia psikologi, belum bertemu dengan Mas Imam saja, aku sudah menebak-nebak rupa fisik dan psikisnya. Dari ciri-ciri suara, aku sudah bisa dengan geniusnya menebak kalau dia adalah seorang laki-laki! 

Benar saja! Mas Imam adalah laki-laki yang alhamdulilah tulen, haha. Perjalanan dari toko berwarna merah menuju asrama DivaPress tidaklah jauh, hanya melewati gang-gang yang cukup gelap dan seram. Woaah, ini dia... DivaPress. Setelah penasaran dengan sesuatu bernama DivaPress yang selalu saja bergentayangan di dunia mayaku, akhirnya bangga sekali bisa berkenalan secara langsung dengan mereka. 

Sekarang pukul satu pagi di dua hari terakhir bulan Januari. Aku dikasih titah Mas Imam untuk langsung saja naik ke lantai dua. Di sana, ada mahluk-mahluk yang (ternyata) kasat mata sudah menungguku (mungkin) di emperan tangga. 

“Haloo, kenalin. Namaku Douglas,” aku menyodorkan tangan. Bergaya sok ramah di tengah lingkungan yang masih asing buat kita, adalah cara paling cerdik menyelamatkanmu dari rasa kesepian.

“Yuhuuu, jenengku Yusuf. Panggil aja Ucup” terangnya singkat dengaan senyuman yang entah kenapa sangat super duper lebarnya, mana dialeq-nya sangat Jawa sekali. 

Melangkah sedikit ke atas, aku berkenalan juga dengan Mas Reza, Mas Kiki, Mas Awal, dan mereka semua tercecer di sudut tangga. Entahlah, mungkin itu tempat nongkrongnya.

Benakku saat melihat ruangan lantai dua, Woah acara ini pasti bakal menyenangkan! Ruangan yang pertama kali menyambutku adalah aula dengan beberapa meja menyatu lalu membentuk Huruf-U. Baru tiba, aku langsung ditodong dan diberi hadiah satu tas berisi buku dan nasi bungkus, luar biasa! Lampu temaram, ada dua anak laki-laki tidur di tengah barisan meja yang membentuk huruf-U, dan dua lagi di sudut ruangan.  Bagian paling menyenangkan adalah saat dengan sok cool—nya aku berkenalan sama gadis bernama Mba Tiwi dan Gyta. Mereka terlihat sangat akrab. Aku Bingung. Mereka itu peserta atau panitia!

Masuk ke dalam kamar, aku bertemu dengan dua laki-laki yang tanpa sadar telah membuatku benci dengaan mereka! Namanya Joko dan Nasrul! Aku benci karena mereka jauh lebih tinggi dari padaku, haha! Nampaknya bukan benci atau dendam kesumat... mungkin, hanya pelampiasan saja kenapa aku tidak bisa setinggi mereka. Setelah itu, makan dan tidur!
***

Hari Terakhir di Bulan Januari
Dua puluh orang peserta yang digadang-gadang adalah para keluarga Kampus Fiksi11 ini pun sudah rapi duduk di deretan meja. Aku adalah satu-satunya pria di barisan para wanita. Apa mungkin ada yang salah dengan urutannya? Hah! Kami satu per satu memperkenalkan diri. Di sebelahku ada adek SMA bernama Refa yang sayangnya bukan actris pemeran Asalamualikum Beijing. Dan, di sisi kananku ada (perempuan juga) bernama Mega. Rambutnya pendek, tapi ekspektasi-ku salah! Ia tidak tomboy. Bahkan, semua bayanganku tentang para peserta, tidak ada yang benar! Tidak ada para tante-tante dengan wajah yang (sedikit) tua selain Tante Siska dan Tante Yenitta Anggi. Tidak ada laki-laki buncit dan tua selain Joko, Ucup, dan Awal. Tidak ada laki-laki yang suka meng-imutkan dirinya sendiri selain Ajar. Hah! Ternyata semua tebakanku salah! 

Masuk ke acara pertama. Pembukaan yang sayangnya tidak bisa dihadiri langsung oleh Pak Edi, lalu ada penyerahan membercard secara simbolis. Dan, yang paling mengejutkan, kami diberi tantangan untuk menulis selama tiga jam dengan tema masa kolonial. Ini bagian yang paling menguras semua cairan di dalam tubuh. Satu sisi mikirin riset, dan yang lainnya harus fokus ke alur cerita, Hah! Nulis dengan degup jantung yang lebih kencang itu ternyata jauh lebih menyenangkan. Kita harus bisa satu langkah di depan rasa tertekan dan bingung. Mampu meminjamkan otak untuk riset dan hati untuk pendalaman karakter dalam waktu yang bersamaan, itu sedikit sulit! 

Benar saja, saaat evaluasi cerpen di sore harinya, Aku kalah! Lebih tepatnya belum berkesempatan untuk menang. Oh iya, kami dibagi menjadi beberapa kelompok kecil dalam proses kreatif menulis. Kelompok empat yang beranggotakan aku (Ricky Douglas), dedek SMA (Refa), dan pemuda dari Pare-Pare (Nasrul). 

Setelah saya amati dengan kening berkerut dan alis yang saling bertabrakan, di Kampus Fiksi banyak yang lucu. Salah satunya, entah kenapa semua mata laki-laki di sana (yang belum beristri) selalu saja melihat ke arah perempuan yang bernama (Suci = salah satu peserta KF). Terutama Kang Reza. Duh, sepertinya laaki-laki satu itu sudah kena kutukan maut dari senyum seorang Suci, haha. 

Percaya padaku, semua pengalaman selama dua hari dua malam itu tidak akan selesai jika dijadikan satu rangkaian cerita. Akan banyak kisah di balik kisah, makna di balik makna, pertemuan di balik pertemuan. Kami mengkahiri semua rangkain acara dua hari itu dengan menonton video lucu yang diperankan oleh keluarga besar Kampus Fiksi. Perpisahan. Sama seperti perkataan Pak Edi Akhiles yang kurang lebih seperti ini,  “Kadang... saat pertemuan, kita lupa bahwa nantinya kita akan berpisah.”

Benar sekali, Pak! Hari perpisahan sudah datang. Dan, sayangnya aku terlalu lama memahami kalau ternyata diriku sudah nyaman bersama kalian, senyumku sudah sepadan dengan kalian, gerakku sudah seirama dengan kalian. Teman-teman, pertemuan memang menipu, ia terlalu menina bobokanku hingga lupa caranya mengucapkan perpisahaan yang menyentuh. Yah, tidak seperti Risky Ananda dari pulau Medan yang terlalu pandai merangkai kata perpisahan. Benarkah, Ky? Kami bagimu seperti tanda baca? Atau seperti Refa yang dengan keluguhan mampu membekaskan rasa tenang di hati teman-teman, mungkin juga seperti Nasrul yang berkata kalau ia hanya ingin mengucapkan perpisahaan hanya untuk dirinya sendiri. 

Ada juga Nailiz yang menurutku ramah dan asyik. Perempuan dengan panggilan Pipit juga tidak kalah lucu dengan muka selalu merona jika melihat Joko di sampingnya. Ha, satu lagi gadis imut di KF, namanya Ocha, anaknya bener-bener imut. Laki-laki perawakan Uztad juga ada, namanya Mas Anwar. Ada perempuan penyuka korea bernama Deasy, ada Dhanik yang entah kenapa matanya terlihat sangat tajam, dan Anis si ramah. Gyta si... misterius tapi senyumnya bikin tenang, dan ada juga laki-laki cantik bernama Ajar. Dan, orang yang tidak kalah bakal membuatku rindu adalah si Gara (anak Pak Edi), dia teman beracanda, berantem, sekaligus ber-selfi-ria. 

Ah, maaf, aku tidak pandai mengucapkan kata-kata perpisahan! Aku terlalu kaku untuk berucap kalau saat ini aku... merindukan masa yang baru berlalu empat hari itu. Jika aku menggangu kalian dengan celotehku di dunia maya kemudian hari, aku hanya bisa meminta maaf. Hanya itu satu-satunya yang bisa menandakan kalau aku merindukan masa Kampus Fiksi Emas-ku.

Tuesday, November 25, 2014

UNTITLED

BY Ricky Douglas No comments



UNTITLED

          Pernah punya sebuah ikatan? Gimana rasanya? Nyaman atau justru kembali pada kodrat sebuah ikatan. Yaitu, mengikat?! Hm, gua juga punya ikatan kayak gitu. Entahlah, terkadang nyaman... tapi rasa itu memudar dan semakin mengikat. Sedikit sesak memang. Yah, rasa sesak itulah yang gua sebut sebagai persahabatan.

          Ini klise. Sungguh, sangat klise. Ah, lagi-lagi tentang persahabatan dan cinta kan? Maafin gua jika memulai cerita ini dengan hal yang sangat klise kayak gini. 

          Kami ber-enam. Salah satunya memiliki anugerah yang mereka sebut sebagai indra ke-enam. Mungkin karena itulah kami ber-enam. Dan, gara-gara angka enam itulah kami memutuskan untuk memiliki pulpen dan kertas masing-masing buat mengukir kisah sendiri. 

          BERPISAH. Kata itu sedikit membosankan tapi benar banget keberadaanya. Soo, apa yang ngebuat gua masih mengenang mereka? Karena satu hal. Setiap gua mau tidur, hanya gambar senyum mereka yang selalu teringat. 

Cerita ini sengaja gua bikin buat mereka. Selama ini mereka terus berjalan dengan kepala tegap, beberapa ada juga yang menunduk.      Harapan gua, semoga saja dengan cerita ini setidaknya mereka kembali menoleh ke belakang. Sekedar menoleh untuk melihat kalo gua masih tertinggal di sana.

If you think my world it's very confused, you right! But, not at all. Cause i have something special in my life.  Like a Untitled.





Bab 1.
Waiting For Something

Apa yang lo pikiran tentang takdir? Menurut gua sih, takdir itu kayak buah durian. Kalo kalian melihatnya mentah-mentah, itu suatu hal yang menakutkan. Apalagi banyak durinya! Tapi, kalo kalian bisa gunain hidung buat nyium harum buahnya, kalian bakal rela susah payah buat ngedapetin manis isinya. 

Gua itu mahluk paling kece satu jurusan! Ini statement udah menjadi hak paten buat gua. Mau bukti? Nih, gua kasih tahu. BUKTI PERTAMA. Kalo gua ke kantin, pasti ibu kantinnya senyum mulu sama gua dan langsung nawarain “Mau makan apa mas?”. Gua senyum-senyum cool aja ngeliat Ibunya, emang dasar sinar kegantengan gua sulit buat disembunyiin. BUKTI KE-DUA. Bapak-bapak parkiran kampus suka negur gua gitu kalo motor gua udah mulai memasuki lahan dia, sukanya bilang “Kok telat mulu mas? Tuh dosennya udah dateng”.  Reaksi gua? Gua dengan gagah perkasanya menghiraukan ucapan bapak parkiran, pas udah lumayan jauh, gua curi-curi pandang lewat spion. BUKTI KE-TIGA. Huh, satu hal lagi yang buat gua yakin kalo gua adalah mahluk paling kinclong di sini. Setiap dosen ngajar di kelas, gua kan paling aktif tuh nanya mulu, pas gua angkat tangan, seluruh mahluk ajaib dalam kelas langsung noleh ke arah gua. Abis itu mereka bisik-bisik (Ihh, tuh cowo siapa sih? Kok caper banget!) Capek kan jadi gua?!

Pernah teman gua nanya gini kala ujan mulai menghiasi sudut kampus yang disertai dengan kicauan burung (Entah burung siapa yang berkicau).

“Kok lu alay sih?” dia nanya. Malah lebih mirip preman pasar johar kalo lagi marah. 

“Eh, Nyung. Dunia itu sepi banget kalo gak ada orang alay! Bayangin nih, emang lu mau setiap orang ngomong dengan gaya sok diplomatis? Ato anak-anak kutu buku yang kerjaannya cuma pacaran sama buku? Mending alay. Udah lucu, imut, bikin ngakak, terus idaman para ibu-ibu lagi Buahahaha.”

“Yaudah lu pacaran aja sama ibu-ibu sono!” 

“Emang gua Raffi Ahmad?” 

          Akhirnya obrolan tentang mahluk alay bermuara dengan menggosip hubungan Raffi Ahmad dan Yuni Shara. Duh, ini awkward moment banget emang. 

          Balik lagi ke sosok seorang Ramzi Anggara. Ramzi Anggara itu nama panjang gua. Biasanya sih dipanggil Rangga atau serangga! Gua gak suka dipanggil Rangga, soalnya temen-temen gua bilang ntar mirip kayak boyband yang rambutnya maksa banget biar bisa mirip orang barat! Apalagi mukanya cuy. God! Bedak berkilo-kilo bisa betah bersarang di sana. Semantara gua? Gua itu mahluk paling kece yang sederhana dan merakyat. Ke kampus sukanya pake kemeja rapi kaya orang kantoran yang habis di PHK. Rambut gua klimis banget mirip Brandon Routh saat memerankan film Superman Return. Nah, kalo masalah badan, gua itu mirip banget kayak Taylor Lauthner (dalam ekspektasi) dan (realita-nya) gua itu mirip kayak Steve Roger (Chris Evan) saat dia belum dijadikan tikus percobaan oleh Dokter Josef Reinstein hingga menjadi seorang Captain America.

KEBIASAN gua yang lainnya. Seorang Ramzi itu idealis tapi melankolis. All about detective. Paling suka main detective-detective’an. Paling suka Sherlock Holmes. Saking sukanya sama dunia para pemecah misteri ini, sampe-same ngegalau karena gak punya pacar aja pakai gaya detective.

“Oke. Gua harus bisa memecahkan kasus lu. Ini kasus paling berat yang pernah gua temuin. Lu udah jomblo hampir seumur idup kan?” (Ngomong sama cermin)

“Iya. Gua jomblo mulu nih. Terus apa dong penyebab gua jomblo?” (Ngomong sama cermin lagi)

Mikir. Liat cermin. Jentikin jari di jidat. Senyum lebar.

“Gua tahu! Mungkin lu jomblo karena jodoh lu udah meninggal pas dia baru lahir. OMG! Sabar ya!”

Dan, begitulah obrolaan singkat dari seorang jomblo ngenes seperti gua. Malam ini berakhir LAGI dengan peluk guling dan ngisep jempol. 


-Continued-





*Gara-gara ngobrol bareng Yudha jadinya kepikiran lagi buat cerita ini, setelah kehilangan 300 hlm karena virus. Ini versi cerita UNTITLED yang berbeda dari dulu. Nyoba bikin cerita yang 'sok ngelucu' buahaha


 









Monday, May 19, 2014

Bayangan

BY Ricky Douglas No comments


            Aku menyibakkan rambut yang kian panjang. Kubersihkan beberapa bagian seragam yang nampak sedikit  lusuh. Aneh sekali, padahal ini seragam baru! Kuperhatikan wajahku di cermin. “Cantik,” selorohku dengan senyum terkembang. Ah, sepertinya, aku terlalu banyak memakai bedak! Putih wajahku sudah sedikit berlebihan.
***
            Langkahku terasa ringan. Entahlah, mungkin karena aku terlalu bersemangat menimba ilmu. Maklum saja, hari ini adalah hari pertama masuk sekolah! Tentu semangatku masih menggebu-gebu. Dengan lahkah cepat, aku mulai masuk ke dalam kelas, walaupun langit nampak mendung.

            Duduk, lalu diam! Tak seoarang anak pun yang bertata krama padaku. Tak seorang anak pun yang menyapa atau membalas sapaanku! Menyebalkan! Guru di depan kelas pun nampak sibuk menjelaskan materi yang sulit buat kupahami.

            Aku duduk di barisan paling belakang, dengan dua anak mengapitku. Sedari tadi, mereka tak pernah mendengarkan materi yang disampaikan, karena selalu berbicara, dan sesekali melempar tawa. Aku tersenyum mendengar pembicaraan mereka, dan beberapa kali ikut andil dalam pembicaraan itu. Walapun mereka mengabaikanku, bahkan tak melirik sejengkal pun kearahku.
***
Tak jarang kugerakkan pantat ini! Rasanya tak nyaman duduk berlama-lama di dalam kelas. Bukan karena tak betah, namun rasa sakit yang mendera leher ini, membuatku sedikit meringis. Kuangkat tanganku ke atas, berharap guru yang sedang mengajar megnizinkanku pergi ke toilet. Namun, sekali lagi! Aku diabaikan! Suaraku seperti tertelan bising dari celoteh sang guru.

Kuseret kaki yang terasa berat, kemudian menghampiri guru di depan kelas.
“Pak, saya ingin izin ke toilet,” suaraku sedikit tertahan, karena menahan rasa sakit.
Seperti ada yang mencekik leherku. Guru itu angkat bicara. Tapi! Bukannya menanggapi omonganku, justru dia menghampiri salah satu siswa yang terlihat sedang berteriak hiteris.

Tak dapat lagi rasanya kutampung rasa sakit ini. Aku duduk meringkuk di depan kelas. Leherku kian terasa perih, seperti di jerat oleh temali tak kasat mata. Mataku kian meremang, dan tubuhku pun ikut menggigil. Beberapa kali kuhembuskan nafas berat. Teriakan minta tolongku tak terdengar atau mungkin memang tak diperdulikan mereka! Kuhapus air mata ini.
“Darah?” gumamku heran. Kenapa air mataku berwarna merah? Terlihat seperti darah!
“Kamu kenapa?” teriak panik Pak guru, kepada salah satu siswa.
Kutolehkan kepala kearah mereka. Hebat! Guru yang pilih kasih! Aku pun menderita! Tak lihatkah kalian sekujur tubuhku yang kian meringkuk? Lihat! Mataku pun mengeluarkan cairan mirip darah! Hey! Jangan sungkan untuk menolongku!
“Pak … i … itu … ku … kunti,” pekik suara anak itu, sambil melihat dan menunjuk kearahku.
“Oh, syukurlah. Bapak kira kamu sakit. Jangan khawatir, ia cuma ingin ikut belajar. Itu salah satu siswi yang meninggal dua puluh tahun lalu, akibat bunuh diri,” jelas Pak guru.
 “Ayo, kita bacakan doa untuknya,” sambungnya kemudian.

Mataku membesar, degup jantungku berirama secepat kilat. Aku? kenapa mereka menyebutku … kunti? Rasa sakit di tubuhku perlahan menghilang, darah yang menghiasi pipiku pun lenyap tak bersisa. Seperti bayangan yang tertelan gulita, perlahan tubuhku pun menghilang. Senyap!






BIODATA NARASI
Ricky Douglas, seorang penulis muda kelahiran 14 Juli 1994 ini tinggal di Kabupaten Ogan Ilir, Palembang, Sumatera Selatan, dan sekarang sedang menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro Semarang. Facebook: Ricky Douglas,  Twitter: @RickyDouglasz, atau email : ricky_douglas@rocketmail.com Terimakasih.